DIarsipkan di bawah: Gambar | 1 Komentar »
Ketulusan yang Teruji
- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -
Baca: Kejadian 50
Rasa bersalah yang mendalam membuat saudara-saudara Yusuf sulit meyakini bahwa Yusuf benar-benar telah memaafkan semua kesalahan saudara-saudaranya. Memang, ketulusan Yusuf dalam mengampuni baru benar-benar teruji setelah tidak ada penghalang untuk membalas.
Semua bentuk kejahatan atau kekerasan hanya bisa terjadi bila ada kesempatan serta ada kemauan untuk melakukan kejahatan atau kekerasan itu. Saat Yakub masih hidup, tentu tidak leluasa bagi Yusuf untuk melakukan pembalasan karena pembalasan itu pasti akan melukai hati ayahnya. Setelah Yakub meninggal, tidak ada lagi penghalang untuk melakukan pembalasan. Saudara-saudara Yusuf pun merasa wajar bila Yusuf melakukan pembalasan. Sungguh menakjubkan ketika kita membaca bahwa bagi Yusuf, pembalasan adalah hak Allah, sehingga melakukan pembalasan berarti menempatkan diri pada posisi Allah (50:19). Yusuf bukan hanya berjanji tidak akan melakukan pembalasan, tetapi dia juga berjanji untuk tetap menanggung kebutuhan makanan keluarga besarnya.
Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita akan tiga hal: Pertama, mengampuni itu sulit. Jangan merendahkan orang yang belum sanggup untuk mengampuni bila Anda sendiri belum memiliki pengalaman mengampuni orang yang telah menyakiti hati Anda. Kedua, ketulusan kita dalam mengampuni baru teruji bila kita memiliki kesempatan untuk melakukan pembalasan tanpa ada penghalang, termasuk tidak ada ancaman secara hukum bila kita melakukan pembalasan. Ketiga, ketulusan Yusuf dalam mengampuni saudara-saudaranya mengingatkan kita akan pengampunan dosa yang bisa kita peroleh di dalam Kristus, walaupun sebenarnya kita pantas mendapat hukuman Allah. [P]
Kejadian 50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?”
DIarsipkan di bawah: Renungan Harian | Leave a Comment »
Berbelas Kasihan
Baca: Matius 14:13-21
“Belas kasihan”, itulah yang membedakan Yesus dan para murid dalam kisah ini. Belas kasihan adalah rasa simpati dan perhatian bagi orang yang sedang membutuhkan. Suatu emosi mendalam yang tertuju pada orang yang sedang mengalami kesakitan, kemiskinan, atau keputusasaan.
Belas kasihan inilah yang menggerakkan Yesus untuk menyembuhkan orang sakit yang mendatangi Dia. Padahal waktu itu Ia bermaksud menyendiri. Belas kasihan pula yang membuat Yesus memberi makan lima ribu orang.
Namun bagaimana dengan para murid? Mereka melihat bahwa orang banyak itu perlu makan. Maka mereka meminta Yesus untuk menyuruh orang-orang itu pergi mencari makanan. Sekilas permintaan itu menyiratkan adanya perhatian pada orang lain. Namun jadi ironis karena mereka ingin orang banyak itu pergi, justru saat Yesus ingin menolong mereka. Para murid memang perlu memiliki belas kasihan terhadap orang lain. Mereka seharusnya meminta Yesus untuk melakukan sesuatu dan bukan menyuruh orang banyak itu pulang.
Tentu Yesus tidak mau menyuruh orang banyak itu pulang. Ia justru menyuruh para murid untuk memberi mereka makanan (ayat 16). Perhatian para murid terhadap kebutuhan orang memang baik, tetapi tak cukup sampai di situ. Lakukan sesuatu untuk memberi mereka makan! Sayang tak cukup makanan untuk memberi makan lima ribu orang lebih! Namun apa yang mereka miliki kemudian menjadi berkat bagi orang banyak ketika diserahkan ke tangan Yesus.
Sebagai murid Yesus di masa kini, hendaknya kita juga memiliki belas kasihan. Jika kita melihat yang miskin, yang lapar, atau yang butuh pertolongan, dan kita digerakkan oleh belas kasihan maka kita harus menolong mereka. Mungkin kita tidak punya banyak, tetapi seberapa pun itu pasti lebih banyak daripada yang dimiliki orang yang sedang membutuhkan itu. Jangan pernah terpikir oleh kita bahwa jika kita memberi maka orang itu akan jadi malas dan bergantung pada kita.
Dikutip dari Santapan Harian. Hak Cipta : Yayasan Persekutuan Pembaca Alkitab. Isi Santapan Harian lainnya seperti pengantar kitab, artikel ringkas, sisipan, dlsb. dapat diperoleh dengan membeli buku Santapan Harian dari Yayasan PPA: Jl. Pintu Air Raya No 7 Blok C4, Jakarta 10710, ph:3442461-2; 3519742-3; Fax: 344972; email:ppa@ppa.or.id. Informasi lengkap : PPA di: http://www.ppa.or.id
DIarsipkan di bawah: Renungan Harian | Leave a Comment »
Semangat Persahabatan
– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI 10 Februari 2010 –
Baca: 2 Samuel 17:27-29
Ayat Mas: Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Amsal 17:17
Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 8-10; Matius 25:31-46
Maggie Hamilton, seorang murid Sekolah Dasar di Michigan, Amerika Serikat, menulis surat ini: “Hai, semoga keluarga dan teman-temanmu baik-baik saja. Di gereja, saya berdoa untukmu dan negaramu. Di sekolah, kami mengumpulkan dana untuk negaramu. Maka, kami membuat gelang tsunami. Saya membuat satu untukmu. Semoga kamu menyukainya. Saya akan terus berdoa untukmu dan negaramu di gereja.”
Dan, Nada Lutfiyyah, anak sebatang kara yang kehilangan orangtua, kakak, dan adiknya dalam peristiwa tsunami di Aceh, membalas surat itu, “Sahabatku, namaku Nada Lutfiyyah. Saya sangat senang dan terharu menerima suratmu. Saya kehilangan seluruh keluarga saya dan sekarang tinggal bersama sepupu saya. Saya senang atas perhatianmu. Semoga saya segera menerima gelang pemberianmu karena saya ingin mengenakannya di tangan ini untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa saya sekarang memiliki seorang sahabat.” Dua sahabat itu bertemu di Istana Negara pada perayaan HUT kemerdekaan Indonesia ke-63, atas undangan Presiden SBY.
Maggie dan Nada mengajarkan satu hal, bahwa persahabatan melewati batas-batas jarak, suku, status, warna kulit, dan agama. Kuncinya adalah ketulusan untuk saling memberi serta keterbukaan untuk saling menerima. Hal serupa kita baca dalam 2 Samuel 17:27-29. Daud tengah terlunta-lunta karena melarikan diri dari Absalom, anaknya yang memberontak. Saat pasukannya kelelahan, beberapa orang dari bangsa lain; Sobi bin Nahas, Makhir bin Amiel, dan Barzilai, mengulurkan tangan memberi bantuan. Alangkah baiknya jika kita pun memiliki semangat persahabatan seperti itu.
KETULUSAN DAN KETERBUKAAN ADALAH KUNCI PERSAHABATAN
Penulis: Arie Saptaji
DIarsipkan di bawah: Renungan Harian | 1 Komentar »
Doa Satu Menit
Bapa di surga,
kami mengakui bahwa seringkali lebih mudah
bagi kami membicarakan tentang kerajaanMu
daripada bersimpuh di kaki sang Raja.
Kuatkanlah keinginan hati kami
menyediakan waktu setiap hari
untuk dipersembahkan bagi kemuliaanMu,
agar kami dengan setia membaca sabdaMu yang suci
dan bersatu denganMu di dalam doa.
Dalam berkomunikasi denganMu kami bertumbuh
dalam kasih dan devosi, serta senantiasa ingat
akan hal-hal luar biasa yang telah
Engkau lakukan bagi kami.
Engkaulah Allah yang berkuasa dalam hidup kami,
namaMu kudus adanya.
Amin.
DIarsipkan di bawah: Doa | Leave a Comment »
Prinsip Tabur Tuai
- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -
Baca: Kejadian 49
Kehidupan ini selalu mengikuti prinsip tabur tuai, yaitu bahwa kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tabur. Bila kita menabur kebaikan, kita akan menuai pahala. Bila kita menabur kejahatan, kita akan menuai hukuman. Hukuman ini hanya bisa ditiadakan di dalam Kristus.
Berkat yang disampaikan oleh Yakub kepada anak-anaknya berkaitan dengan apa yang pernah dilakukan oleh anak-anaknya pada masa yang lampau. Berkat yang negatif (kutukan) diberikan kepada mereka yang bersalah dan berkat yang positif (pahala) diberikan kepada mereka yang memiliki kebaikan yang menonjol.
Sebagai anak sulung, Ruben seharusnya mendapat berkat yang utama, namun dia kehilangan berkat karena dia telah berzinah dengan Bilha, gundik ayahnya sendiri (35:22a; 49:3-4). Yakub mengutuk Simeon dan Lewi yang dikuasai oleh kemarahan saat mengetahui bahwa Dina, adik kandung mereka, diperkosa oleh Sikhem, sehingga mereka membunuh semua laki-laki di kota tempat tinggal Sikhem (34:25; 49:5-7). Yehuda mendapat pujian karena keberaniannya menanggung risiko dalam membela Benyamin (44:33-34; 50:8-12). Yusuf mendapat berkat khusus (50:22-26) karena dia memiliki kebesaran hati untuk memaafkan saudara-saudaranya yang telah berlaku jahat dengan menjual dirinya sebagai budak. Bahkan, dia bersedia memelihara kehidupan seluruh keluarga besarnya.
Sebagai manusia yang dilahirkan dalam dosa dan memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, sudah selayaknya kita mendapat hukuman Allah. Bila kita bisa mendapat pengampunan dosa, hal itu semata-mata bukan karena keberadaan diri kita sendiri, melainkan karena kesediaan Tuhan Yesus untuk mati di kayu salib guna menanggung hukuman dosa kita (Galatia 3:13). [P]
2 Korintus 9:6 “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”
DIarsipkan di bawah: Renungan Harian | Leave a Comment »




