Catatan dari Penulis

Salam kasih dalam Tuhan.

Mulai hari ini, pembaca dapat mengikuti kembali saduran renungan harian dari buku Renungan Harian Air Hidup. Pembaca bisa meng klik ke blog http://airhidupblog.blogspot.com

Terima kasih

Manfaat Penderitaan

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: 2 Korintus 1

Apa tujuan Allah membiarkan umat-Nya mengalami penderitaan?
Pertama, Allah membiarkan kita mengalami penderitaan agar kita bisa merasakan penghiburan dari Allah, dan penghiburan dari Allah itu bisa menjadi dasar untuk menghibur orang lain yang mengalami penderitaan (1:3-7). Kedua, Allah membiarkan kita mengalami penderitaan agar kita tidak mengandalkan kemampuan diri sendiri, melainkan mengandalkan kuasa Allah (1:8-10). Ketiga, Allah membiarkan kita mengalami penderitaan untuk menyatukan umat-Nya. Sebagaimana penderitaan yang dialami oleh Rasul Paulus dan tim pelayanannya membuat jemaat Korintus bersatu untuk mendukung dalam doa (1:11), demikian pula penderitaan yang dialami oleh umat Tuhan di daerah-daerah tertentu merupakan dorongan bagi umat Tuhan di seluruh dunia untuk bersatu memberikan dukungan melalui doa.

Bagi orang-orang Yahudi (Israel) yang pernah mengalami penderitaan sebagai bangsa jajahan di Tanah Mesir, penderitaan memiliki makna yang khusus, yaitu bahwa penderitaan yang mereka alami seharusnya membuat mereka bisa merasakan penderitaan bangsa asing yang berada di tengah-tengah mereka (yang umumnya menjadi budak), sehingga mereka tidak bersikap menindas (Keluaran 23:9).

Apakah Anda menyadari bahwa penderitaan yang Allah izinkan untuk terjadi di dalam kehidupan Anda merupakan sarana di tangan Allah untuk mendidik Anda agar bersikap empati (ikut merasakan) dan bersedia mengulurkan tangan untuk menolong orang-orang lain yang sedang mengalami penderitaan? [P]

Share

Rumah Duka

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI  17 Juli 2009

Baca: Pengkhotbah 7:1-7
Ayat Mas: Pengkhotbah 7:2
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 31-33

Rumah duka biasanya terkesan suram, kotor, pengap, dan menyeramkan. Untuk menghapus kesan itu, kini mulai banyak dibangun rumah duka modern yang indah, bersih, berpendingin udara, bahkan dilengkapi alat musik. Namun, ini tidak membuat orang lebih suka pergi ke sana, apalagi berlama-lama di situ! Manusia enggan berhadapan dengan kematian dan suasana duka.

Melihat kenyataan ini, nasihat Pengkhotbah terdengar tidak lazim. Menurutnya, lebih baik pergi ke rumah duka daripada pergi ke rumah pesta. Lebih baik bersedih dan meratap di rumah duka, ketimbang tertawa di rumah pesta. Mengapa? Karena kedukaan mengajarkan kita banyak hal. Kita disadarkan bahwa hidup ini singkat. Semua orang akan mati, termasuk kita. Mumpung masih ada kesempatan hidup, pakailah untuk berbenah diri! Keluarga yang meratap juga belajar banyak. Rasa kehilangan mendorong mereka lebih bergantung pada Tuhan. Jadi, di rumah duka kita belajar hidup bijak. Pelajaran ini tidak akan kita dapatkan di rumah pesta. Di situ orang diajak tertawa. Melupakan segala kesusahan dan realitas hidup. Dibawa bersenang-senang sampai lupa daratan!

Kita banyak belajar tentang Tuhan dan iman justru di saat sulit, bukan di saat bersenang-senang. Oleh karena itu, kemalangan ada gunanya. Tidak harus dihindari. Apakah Anda selalu berusaha menghindar dari penderitaan dengan segala cara? Saat Tuhan menempatkan Anda di “rumah duka”, apakah Anda lari ke “rumah pesta”? Lihatlah kemalangan sebagai kesempatan emas untuk belajar sesuatu dari Tuhan!

Tuhan membuat hidup kita kaya; dengan mengajar kita mencampur canda dan air mata

Penulis: Juswantori Ichwan

Share

Mengasihi Tuhan

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: 1 Korintus 16

Mengapa di bagian akhir surat 1 Korintus ini, Rasul Paulus memberi peringatan yang amat keras bahwa orang yang tidak mengasihi Tuhan itu terkutuk (16:22)?
Peringatan keras ini disebabkan karena hal tidak mengasihi Tuhan merupakan inti penyebab munculnya berbagai masalah dalam gereja di kota Korintus. Bila mereka mengasihi Tuhan, mereka akan lebih mengutamakan Tuhan Yesus daripada para pemimpin yang melayani mereka, sehingga tidak akan terjadi perpecahan yang disebabkan karena sikap yang memihak pemimpin yang dianggap favorit. Bila mereka mengasihi Tuhan, mereka akan memilih mengutamakan kehendak Tuhan daripada kesenangan (hawa nafsu) mereka sendiri. Bila mereka mengasihi Tuhan, mereka akan lebih mengutamakan keperluan membangun jemaat ketimbang mengejar karunia yang hebat untuk kebanggaan diri sendiri. Bila mereka mengasihi Tuhan, mereka akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan lebih mengutamakan warisan surgawi daripada apa yang ditawarkan oleh dunia ini.

Apakah Anda lebih mengasihi Tuhan Yesus daripada segala sesuatu yang lain, termasuk keluarga, harta benda, pekerjaan, kesenangan, dan sebagainya? Apakah kasih Anda kepada Tuhan Yesus mempengaruhi sikap Anda terhadap orang-orang di sekitar Anda? Apakah kasih Anda terhadap Tuhan Yesus telah membuat Anda lebih mengutamakan kesetiaan dan kejujuran ketimbang keuntungan duniawi? Apakah kasih Anda terhadap Tuhan Yesus telah membuat Anda memprioritaskan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dan membuat Anda selalu menyediakan waktu untuk melakukan pekerjaan Tuhan? [P]

Share

Memeriksa Diri Sendiri

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI  16 Juli 2009

Baca: Matius 3:1-12
Ayat Mas: Matius 3:8
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 28-30

Dalam sebuah seminar, para peserta diberi lembar “evaluasi narasumber”. Dengan antusias, peserta mengungkap hal-hal positif maupun negatif yang perlu ditingkatkan sang narasumber. Evaluasi memang sangat bermanfaat jika dipandang sebagai “cermin” untuk meningkatkan kualitas kinerja seseorang. Namun, pernahkah kita mengevaluasi diri sendiri, untuk melihat berapa banyak kebenaran yang sudah atau belum kita lakukan? Atau, kita lebih suka mengevaluasi orang lain?

Yohanes Pembaptis dipakai Tuhan untuk menyerukan “… hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (ayat 8). Sangat menarik bahwa kalimat ini ia katakan di depan orang-orang Farisi dan Saduki yang sudah mengenal hukum Taurat. Mereka datang kepada Yohanes untuk dibaptis (ayat 7). Di situlah Yohanes mengingatkan mereka agar berbuah, sesuai pertobatan mereka. Seseorang yang mengaku telah bertobat, tidak boleh pasif atau tidak berbuah. Justru pertobatan itu harus mendorongnya untuk senantiasa menghasilkan buah pertobatan, yaitu perkataan dan perbuatan yang mewartakan kasih Tuhan. Kita diminta senantiasa berbuah, apa pun keadaan kita. Respons yang benar bukanlah menawar atau mengajukan beribu alasan untuk tidak berbuah, melainkan taat untuk berbuah. Dan di tangan Tuhan, sesuatu yang sederhana dapat Dia jadikan berkat bagi orang lain.

Maka, satu hal yang perlu kita lakukan: belajar berani mengevaluasi diri. Tanyakan pada diri sendiri: Sudahkah saya berbuah? Apakah yang saya berikan hari ini adalah perkataan dan perbuatan yang meninggikan nama Tuhan, atau diri sendiri? Kiranya kita didorong untuk melakukan yang lebih baik bagi Tuhan dan sesama.

Sejak kita bertobat, sebuah tugas melekat. Yakni untuk terus berbuah, hingga hanya Kristus yang disembah

Penulis: Helen Aramada Setyoputri

Share

Baptisan Orang Mati

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: 1 Korintus 15

Apakah praktik “dibaptis bagi orang mati” (15:29) boleh kita tiru saat ini?
Pertama, sadarilah bahwa kita tidak bisa memastikan maksud ungkapan “dibaptis bagi orang mati”. Ada yang menafsirkan “orang mati” itu sebagai anggota keluarga yang telah meninggal. Ada yang beranggapan bahwa orang yang mati itu adalah martir (mati karena mempertahankan iman Kristen). Ada pula yang menduga bahwa orang mati itu adalah orang percaya yang meninggal sebelum sempat dibaptiskan. Dalam sejarah penafsiran Alkitab, terdapat 30 sampai 40 macam tafsiran yang berbeda tentang maksud ungkapan di atas. Kesulitan kita untuk menentukan pengertian ungkapan “dibaptis orang mati” itu disebabkan karena praktik tersebut sudah diketahui maksudnya oleh penulis dan penerima surat, sehingga Rasul Paulus sebagai penulis surat 1 Korintus tidak merasa perlu menjelaskan maksud ungkapan tersebut dalam suratnya. Kedua, sadarilah bahwa Rasul Paulus tidak memberi persetujuan terhadap praktik tersebut. Beliau mengemukakan adanya praktik “dibaptis bagi orang mati” itu hanya untuk mengungkapkan ketidakkonsistenan iman jemaat Korintus bila di satu pihak mereka menjalankan praktik “dibaptis bagi orang mati” dan di lain pihak mereka meragukan adanya kebangkitan orang mati (15:12).

Alkitab menjelaskan bahwa jalan satu-satunya untuk mendapatkan keselamatan hanyalah melalui iman kepada Tuhan Yesus, bukan melalui baptisan, dan bahwa tidak ada kesempatan untuk memperoleh keselamatan setelah kematian. Oleh karena itu, praktik baptisan orang mati adalah kebiasaan sia-sia (yang dipengaruhi oleh kebiasaan orang-orang kafir) yang tidak boleh kita tiru pada masa kini. [P]

Share

Setia Dalam Kekosongan

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI  15 Juli 2009

Baca: Rut 1
Ayat Mas: Rut 1:16
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 25-27

”Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.” Inilah sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan, tetapi perlu dibuktikan. Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit?

Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi, boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang lumayan berada—Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan Naomi, tetapi ada pernyataan bahwa Naomi “pergi dengan tangan penuh” (1:21). Akan tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi jatuh miskin—”tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku”. Di sinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan Naomi dalam “kekosongannya”.

Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu, jikalau kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita setia.

Jangan biarkan kesetiaan kita ditentukan oleh harta, tetapi tentukanlah kesetiaan kita oleh kasih

Penulis: Riand Yovindra

Share

Karunia Untuk Membangun Jemaat

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca : 1 Korintus 14

Mengapa Rasul Paulus menganggap karunia bernubuat lebih berharga daripada karunia bahasa roh? Pertama, bahasa roh adalah bahasa yang tidak dapat dimengerti (14:2) sehingga hanya cocok dipakai untuk berdoa kepada Allah, sedangkan nubuat dapat dimengerti sehingga berguna untuk membangun, menasehati, dan menghibur jemaat (14:3). Kedua, bahasa roh adalah tanda bagi orang (Yahudi) yang tidak beriman, sedangkan nubuat adalah tanda bagi (setiap) orang yang beriman. Tanda bahasa roh diberikan untuk menegaskan kepada orang-orang Yahudi yang tidak beriman bahwa berita Injil tentang Yesus Kristus bukan hanya ditujukan kepada orang Yahudi, tetapi juga ditujukan bagi orang-orang bukan Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul, munculnya karunia bahasa roh berkaitan dengan dimulainya suatu era baru, yaitu era dimulainya karya Roh Kudus bagi orang Yahudi di Yerusalem (Kisah Para Rasul 2:1-21), orang Samaria (Kisah Para Rasul 8:5-17), orang asing (Kisah Para Rasul 10:44-46), dan para murid Apolos yang belum memahami benar berita tentang Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 19:1-6).

Pandangan kita tentang karunia yang terpenting berkaitan dengan kedewasaan kita secara rohani. Saat kita baru mulai percaya, kita adalah bayi secara rohani yang memerlukan makanan yang lunak. Sebagai bayi rohani, wajar bila kita hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri. Akan tetapi, setelah kita semakin dewasa, kita harus mulai memikirkan keperluan orang lain. Bagi seorang Kristen yang sudah dewasa secara rohani, keperluan orang lain menjadi lebih penting (atau paling tidak sama penting) dibandingkan dengan keperluan kita sendiri. [P]

Share

Firman Menjadi Manusia

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI  14 Juli 2009

Baca: Yohanes 1:10-18
Ayat Mas: Ibrani 4:7
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 22-24

Elie Wiesel, penerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1986, adalah seorang yang berhasil selamat dari kekejaman tentara Nazi. Dalam bukunya yang terkenal, Night, ia berkisah tentang pengalamannya ketika berada di Kamp Konsentrasi di Auschwitz dan Buchenwald. Diceritakan tentang seorang anak kecil yang digantung oleh tentara Nazi di hadapan para penghuni kamp. Saat tubuh kecil itu bergoyang meregang nyawa, dari kerumunan orang banyak terdengar suara bertanya, “Di mana Tuhan?” Dan Wiesel menjawab lirih, “Di sana, digantung bersama anak itu.”

Di tengah ketidakadilan dan penderitaan hidup, kita kerap menjadi ragu akan kasih dan kebaikan Tuhan. Hari ini kita diingatkan kembali akan solidaritas Allah atas kita di dalam Tuhan Yesus, Sang Firman yang telah menjadi manusia dan diam di antara kita (ayat 14). Itu berarti, bahwa Allah Yang Mahaagung dan Mahabesar itu ternyata juga Allah yang dekat. Allah yang kepada-Nya kita memanggil Bapa. Dia tidak berada di luar sejarah, dan mengendalikannya seperti orang yang memainkan remote control. Dia sungguh-sungguh berada di dalam sejarah; terlibat bersama kita; merasakan apa yang kita rasakan; menanggung apa yang kita tanggung.

Untuk dapat mengalami solidaritas Allah, syaratnya cuma satu: menerima Sang Firman dan percaya kepada-Nya (ayat 12). Yah, sesederhana itu. Namun, justru itulah yang paling menentukan hidup kita; bukan hanya di dunia ini, tetapi juga dalam kehidupan kekal kelak. Nah, sudahkah Anda membuka hati untuk menerima Dia?

Kristus sungguh-sungguh turut merasakan suka dan duka kita

Penulis: Ayub Yahya

Share

Saat Memberi, Saat Menerima

Saat engkau meneguhkan hati sahabatmu yang berada dalam ketakutan, sebenarnya engkau pun sedang menerima ketakutannya. Saat ketakutannya engkau terima, saat itulah juga, engkau mengganti ketakutannya dengan keberanianmu.

Saat isterimu mengandung anakmu, isterimu memberi makan janin itu lewat tali pusar dalam rahimnya; selama dalam kandungannya itulah, sebagai suami isteri, kalian sebenarnya menerima seorang manusia yang sudah pasrah total untuk diperlakukan apapun juga: mau serius dicintai, dirawat ataupun tidak! Itulah caranya seorang bayi dalam kandungan ibunya mencintai ibu dan ayahnya, bukan dengan memberi tapi menerima apapun perlakuan orang tuanya.

Saat engkau memberikan uang belanja kepada isterimu, saat itu jugalah engkau sebenarnya menerima kerendahan hati isterimu untuk diberi nafkah hidup.

Saat engkau merawat suami, isteri dan anak-anakmu yang sedang sakit, saat itulah juga engkau belajar menerima keterbatasan kesehatan mereka, sehingga engkaupun belajar kerepotan agar hidup tetap berlangsung.

Saat engkau marah kepada anak-anakmu, saat itu juga engkau menerima telinga anak-anakmu untuk mendengarkan kata-katamu dengan penuh kesabaran, walaupun menyakitkan sekalipun.

Saat engkau marah kepada pasangan hidupmu, dan karena itu dia diam, saat itu jugalah engkau menerima  kesediaannya menerima kata-kata kasar, mungkin pedas, dan menyakitkan, sampai pasanganmu tidak sanggup untuk membalasnya.

Saat engkau dendam kepada orang serumah, sampai engkau tidak mau berbicara dengan mereka; saat-saat itulah engkau sebenarnya menerima kegelisahan mereka karena merasa tidak lagi dipercaya!

Saat engkau mengampuni pasangan hidupmu dan anak-anakmu setelah konflik akibat berbagai macam masalah, saat itu jugalah engkau menerima kegembiraan mereka karena masih dipercaya walaupun telah berbuat salah!

Saat engkau percaya pada saudaramu, bahkan menaruh harapan bahwa saudaramu dapat berkembang meski dia itu rapuh; saat itulah sebenarnya engkau menerima kerapuhannya menjadi milikmu, dan engkau memberikan
harapanmu sehingga berkobar dalam hatinya!

Saat engkau memberi harapan kepada saudaramu, saat itu jugalah engkau melepaskan kacamata hitammu yang lama dan engkau mengganti dengan “kacamata baru” dari saudaramu. Saat itu jugalah engkau mengawali usaha untuk mengampuninya.

Saat Tuhan mengampunimu, saat itu jugalah engkau menerima kehendak bebas dari-Nya agar engkau merasa sungguh dipercaya untuk menentukan keputusanmu demi kepentingan- Nya, yakni kepentingan untuk mengasihi sesama seperti Ia mengasihi.

Saat engkau diampuni oleh Tuhan, saat itu pulalah dengan tulus, Tuhan menerima akibat dosa kita, agar hati kita ditukar dengan hati-Nya. Karena itu semoga hati kita tidak hanya menjadi seperti Hati Kristus yang mahakudus, melainkan akan “menjadi hati-Nya”!

Saat Kristus menjadi “jantung hati”-mu, saat itu jugalah Kristus menempatkan dirimu pada “Jantung Hati-Nya”

Share

Yang Paling Penting Dalam Pelayanan Kristiani

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: 1 Korintus 13

Hal apakah yang paling penting dalam pelayanan seorang Kristen?
Ada tiga hal yang umumnya menjadi pendorong bagi seseorang untuk datang kepada Kristus, yaitu: Pertama, akal sehatnya menyetujui bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat. Kedua, melihat atau mengalami kuasa Kristus yang melampaui semua kuasa lain. Ketiga, melihat perbuatan baik orang-orang Kristen yang menyentuh hati. Sekalipun demikian, dalam bacaan hari ini, diingatkan bahwa tiga hal yang bisa menjadi pendorong bagi seseorang untuk datang kepada Kristus, yaitu keterampilan berkomunikasi, kuasa dalam pelayanan, dan perbuatan baik harus disertai dengan kasih. Tanpa kasih, kita mungkin bisa memenangkan penalaran seseorang, tetapi tidak bisa membuat orang itu datang kepada Kristus (13:1). Tanpa kasih, kuasa yang kita miliki tidak akan berguna bagi orang lain (13:2). Tanpa kasih, perbuatan baik yang kita lakukan tidak akan membuat kita berkenan kepada Tuhan (13:3). Bagi seorang Kristen, kasih adalah faktor yang harus ada dalam setiap aspek pelayanan!

Apakah pelayanan Anda secara pribadi sebagai seorang Kristen serta pelayanan gereja Anda sebagai suatu kebersamaan orang percaya telah diwarnai oleh Kristus? Bila pelayanan Anda dan gereja Anda masih diwarnai oleh sikap berkompetisi, saling menjatuhkan, dan saling berebut kuasa, tidak mengherankan bila Anda tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain dan gereja Anda berhenti berkembang atau bahkan mengalami kemerosotan. Sebagai evaluasi diri, renungkanlah apakah aspek-aspek kasih, yaitu kesabaran, kemurahhatian, kerelaan membuat orang lain berkembang, dan aspek-aspek lain dalam 13:4-7 telah mewarnai pelayanan Anda! [P]