Twitter Saat Teduh

Ikutin yu, Saat Teduh di twitter...

Hukuman Pasti Akan Datang

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: Kejadian 6-7

Banjir pada zaman Nuh yang terjadi pada saat yang tak terduga oleh orang-orang pada zaman itu mengingatkan bahwa hukuman Allah atas keberdosaan manusia pasti akan terjadi pada waktu yang ditetapkan oleh Allah (Bandingkan dengan Matius 24:37-44).

Ada berbagai hal yang bisa membuat manusia mengabaikan datangnya hukuman Allah pada masa yang akan datang. Pertama, hukuman yang akan datang itu akan terjadi sekaligus terhadap semua orang pada masa yang akan datang. Saat ini, kita belum melihat kenyataan dari hukuman tersebut karena hukuman itu belum pernah terjadi. Kedua, banyaknya ramalan yang terbukti keliru membuat banyak orang meragukan apakah penghukuman itu benar-benar ada. Ketiga, dosa itu begitu menawan sehingga banyak orang merasa sayang untuk meninggalkan kehidupan berdosa, walaupun mereka sadar bahwa dosa selalu memiliki konsekuensi. Keempat, Iblis selalu berusaha dengan berbagai cara untuk membuat kita melupakan datangnya masa penghukuman itu, antara lain dengan membuat kita menjadi begitu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk berpikir.

Sikap kita terhadap dosa dan terhadap keselamatan yang ditawarkan di dalam Yesus Kristus akan menentukan apakah di masa depan kita akan menghadapi hukuman yang kekal atau sebaliknya, kita menerima berkat yang kekal. Bila kita memilih untuk hidup di dalam dosa dan kita menolak keselamatan dalam Yesus Kristus, saat penghukuman itu akan merupakan saat yang amat mengerikan. Bila kita bersedia meninggalkan dosa dan bersedia menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi kita, saat penghukuman itu akan diganti dengan penghiburan dan berkat yang kekal yang akan diberikan kepada anak-anak Allah. [P]

2 Petrus 3:9
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

Share

Jati Diri

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI 6 Januari 2010

Baca: 1 Yohanes 3:1-10
Ayat Mas: Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; Yohanes 1:12
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 16-17; Matius 5:27-48

Gajah betina itu tak kenal identitasnya. Sejak kecil ia dipelihara dan hidup di antara para tupai. Maka ia menganggap dirinya tergolong bangsa tupai. Ia bertingkah polah seperti tupai. Ia belum kenal jati dirinya, sampai ia berjumpa Manny, si gajah jantan. Dengan berbagai cara, tahap demi tahap, Manny berusaha menunjukkan keserupaan di antara mereka untuk menyadarkannya bahwa ia adalah gajah, bukan tupai. Begitulah cerita ringkas film animasi Ice Age 2. Pesannya jelas: kita perlu sadar diri—siapa kita dan belajar berperilaku sesuai jati diri itu.

Kalau burung mengira dirinya ayam, ia tidak akan terbang tetapi hanya melom¬pat-lompat. Kalau seorang kristiani tidak sadar dirinya anak Allah, jelas yang dilakukannya tidak sesuai standar anak-anak Allah. Sejak menerima Kristus, kita dilahirkan kem¬bali; diciptakan baru; diangkat menjadi “anak-anak Allah”; dan “benih ilahi” ada di dalam kita (ayat 9). Lewat pergaulan tahap demi tahap dengan Dia, selayaknya perilaku kita mengikuti standar keserupaan dengan Yesus. Yohanes tak henti-hentinya menulis tentang kebenaran ini. Mengapa?

Sebab target gempuran Iblis adalah membuat orang-orang kristiani “lupa” jati dirinya. Bagaimana bisa? Lewat tantangan dan cobaan hidup yang beragam, kita bisa dibuat memiliki gambar diri yang buruk: anak bodoh; pembawa celaka; si nasib sial; orang gagal; pecundang; wanita yang tak layak dicintai; pria miskin; si tua yang tak berguna; si pembuat dosa yang tak terampuni. Lalu tanpa sadar, orang akan berperilaku seperti gambar diri itu. Stop! Jangan tergiring ke arah itu! Kita adalah anak-anak Allah. Berjuang dan berperilakulah di atas landasan jati diri yang benar!

Perubahan hidup dimulai dari perubahan gambar diri ke arah yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan

Penulis: Pipi Agus Dhali

Share

Doa Satu Menit

Bapa yang Maha Pengasih,

semoga hati kami menyerupai penulis
dari lagu Catherine Hankey
yang merasa suka cita
saat menyampaikan isi ajaran firmanMu
kepada semua orang yang hendak mendengarkan.

Di setiap penyampaian cerita
penyelamatan ia merasa pesan cerita
semakin menghibur jiwanya.

Semoga kami tidak akan pernah lelah
mencari makna ajaranMu
dan tidak kehilangan keajaiban
dari hidup yang berubah
saat terjadi penebusan.

Kami ingin merasakan lapar
dan haus akan kebenaranMu
dan tidak pernah menutup mata
terhadap kisah lama
yang menjadi tema bagi kami
menuju kepada keabadian.

Di dalam nama Yesus kami berdoa.

Amin.

Share

Tanggung Jawab Terhadap Keluarga

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: Kejadian 4-5

Kisah Kain dan Habil merupakan suatu peringatan bahwa Allah pasti akan meminta pertanggungjawaban atas semua sikap dan perbuatan kita ter-hadap orang-orang lain yang ditempatkan Tuhan di sekitar kita (Bandingkan dengan Yehezkiel 3:18.).

“Apakah aku penjaga adikku?” (Kejadian 4:9) merupakan cermin dari sikap individualisme Barat yang saat ini sedang tersebar luas sebagai akibat pengaruh globalisasi. Tanpa te-rasa, sikap yang bertentangan dengan norma kebersamaan yang umum di dunia Timur ini seolah-olah sedang menerima pembenaran. Pada masa kini, kesibukan, persaingan, dan kesulitan hidup membuat manusia cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri saja. Semakin banyak orang berusia lanjut yang merasa kesepian dan anak-anak yang tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Bahkan, tak jarang kita jumpai perebutan warisan antar saudara.

Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menegur orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang menganggap pemeliharaan terhadap orang tua se-bagai kurang penting dibandingkan dengan keperluan keagamaan (Matius 15:5). Rasul Paulus juga menegur keras mereka yang mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga, “jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” (1 Timotius 5:8).

Walaupun beban kehidupan ini semakin hari semakin berat, kita harus senantiasa mengingat bahwa tanggung jawab merawat keluarga yang sudah berusia lanjut tidak boleh diserahkan kepada gereja atau yayasan sosial dan tanggung jawab untuk memelihara dan membesarkan anak tidak boleh di-serahkan kepada pembantu rumah tangga. [P]

Kejadian 4:10
Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu  berteriak kepada-Ku dari tanah.”

Share

Petualangan Terindah

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI 5 Januari 2010

Baca: Mazmur 118:19-29
Ayat Mas: Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! Mazmur 118:24
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 13-15; Matius 5:1-26

Dalam film Up, Carl merasa dikecewakan oleh kehidupan. Ia dan Ellie bermim¬pi untuk bertualang ke air terjun Paradise. Ellie bahkan menyiapkan “Buku Petualanganku”, dengan lembar-lembar kosong di belakang untuk mencatat perjalanan mereka. Namun, aneka masalah—ban bocor, rumah rusak, dan penyakit, menunda rencana itu. Sampai Ellie meninggal, rencana itu belum terwujud. Carl menjadi duda yang menutup diri. Suatu ketika Carl menemukan “Buku Petualanganku” itu. Ternyata Ellie sudah meng¬isi halaman-halaman yang semula kosong dengan foto-foto pernikahan dan kebersamaan mereka. Ia membubuhkan catatan, berterima kasih kepada Carl atas petualangan yang mereka lewati. Bagi Ellie, kehidupannya sehari-hari bersama Carl ialah petualangan terindah.

Hari-hari kehidupan kita kerap tidak seindah impian; aneka masalah membuat kita sulit bersukacita. Perasaan yang entah kenapa murung; situasi yang tidak dapat kita kendalikan; pengharapan yang terpupus; atau rasa bersalah akibat keputusan yang keliru—semua itu merampas sukacita kita.

Pemazmur memahami perasaan seperti itu. Ia menggugah kita untuk berpaling kepada Tuhan. Tuhanlah yang telah menjadikan hari-hari kita, maka Dia pula yang memegang kendali, menyediakan pemeliharaan, dan menguatkan kita dalam menghadapi setiap persoalan. Di tengah situasi sulit sekalipun, kita dapat menemukan sumber sukacita dan rasa syukur untuk menjalani “petualangan” hidup hari demi hari. Dengan segala suka dukanya, hari ini adalah kesempatan terindah yang dikaruniakan Tuhan bagi kita untuk hidup dan melayani Dia.

HARI DEMI HARI AKAN TERUS BERGANTI. ISILAH HARI INI DENGAN PERKARA YANG BERARTI

Penulis: Arie Saptaji

Share