Menjaga Ucapan

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 6 April 2008 –

Baca: Amsal 10:1-32

“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” Amsal 10:19

Tidak gampang menjalani hidup sebagai orang Kristen, terlebih untuk menjaga hidup supaya tetap berkenan kepada Tuhan, sebab dengan meremehkan firman Tuhan dan tidak menjadi pelakunya, maka kehidupan orang Kristen tidak ada bedanya dengan orang fasik. Fakta berbicara bahwa banyak terjadi ketidakstabilan dan kurang pertanggungan jawab atas kehidupan anak-anak Tuhan di segala hal; salah satu contoh kecil yang menunjukkan bahwa banyak orang Kristen masih berada dalam tingkatan rohani kanak-kanan adalah dalam hal ucapan, di mana sering dijumpai orang Kristen yang ‘bocor’ mulutnya, suka menggemakan kata-kata yang sia-sia. Penulis amsal sendiri menyatakan bahwa ‘Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Amsal 10:19)
Seringkali kita mengabaikan soal ‘bicara’ ini. Bila hal ini tidak penting, tentunya Alkitab tidak akan menulis ayat yang berkenaan dengan ucapan ini. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita tidak dapat menahan ucapan. Kita mudah terjerumus ke dalam percakapan yang jahat (gosip), dan melalui ucapan sering kita punya kecenderungan menyombongkan diri. Kita juga terjerat untuk berkata-kata kotor atau sembrono, mengumpat/mendamprat orang dan masih banyak lagi. Ketahuilah bahwa Tuhan tidak membutuhkan ‘pelawak-pelawak’ rohani atau para pemeran sandiwara dalam hidup ini!
Dari sikap hidup dan ucapan yang menggema dari mulut kita sehari-hari, dapatlah diukur apakah kita orang Kristen yang sungguh-sungguh memperhatikan firman Tuhan di segala aspek kehidupan kita atau hanya sekeda menjalankan firman. Alkitab menyatakan dengan tegas: “Jikalau ada seorang mengganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (Yakobus 1:26); disebutkan pula bahwa setiap kata sia-sia yang kita ucapkan akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan (baca Matius 12:36). Bukan berarti kita tidak boleh bergurau, tapi haru lebih selektif lagi mengenai apa yang kita guraukan.

Biarlah ucapan kita senantiasa sesuai dengan firman Tuhan dan memuliakan namaNya!

Tinggalkan Balasan