Ahli Taurat dan Orang Farisi (2)

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 16 Mei 2008 –

Baca: Lukas 11:37-54

“Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.” Lukas 11:39

Dalam renungan kemarin Tuhan Yesus mengibaratkan ahli Taurang dan orang Farisi seperti kuburan yang dilabuh putih, kelihatan indah dan bersih luarnya, tetapi dalamnya berisi tulang-belulang yang tidak berguna, berbau busuk dan tempat bersarangnya pelbagai jenis kotoran. Mereka mengutamakan penampilan luar sehingga banyak orang menjadi terkecoh/tertipu, padahal “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b). Bukankah seharusnya moral dan karakternya diperbaiki dulu, lebih dari sekedar memoles bagian luarnya sedemikian rupa?
Teguran keras ini juga ditujukan kepada kita anak-anak Tuhan, lebih-lebih sebagai pelayan Tuhan. Apakah kita benar-benar sudah layak di hadapan Tuhan atau masih banyak dosa yang kita sembunyikan. Kita bisa menipu orang lain atau menutupi dosa di hadapan manusia, tetapi ingatlah ada sepasang mata yang tidak bisa kita bohongi yaitu mata Tuhan, karena “…tidak ada suatu mahlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13)
Orang-orang Farisi juga dikenal sebagai hamba uang atau sangat mencintai uang (baca Lukas 16:14). Kecintaannya terhadap uang membuat mereka menjadi sangat serakah dan kikir. Kekayaan dan uang menjadi motivasi mereka melayani Tuhan, sehingga dalam segala hal mereka mengedepankan kepentingan jasmani. Selain itu, mereka adalh orang-orang yang gila hormat dan pujian, seperti dikatakan: “…sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.” (Lukas 11:43). Mereka melakukan banyak hal supaya dipuji dan dihormati oleh orang lain. Di tempat ibadah mereka selalu berada di tempat VIP, bahkan mereka sering mengenakan pakaian kebesaran keagamaan yaitu jubah yang panjang di tempat-tempat umum, supaya terlihat sebagai orang yang lebih rohani.

Buanglah sifat kefasisian di dalam diri kita, supaya hidup kita berkenan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 9.513 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: