– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 31 Oktober 2008 -
Baca: 2 Korintus 4:1-15
“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4:8-9
Ketika cuaca buruk kita berpikir dua kali untuk datang beribadah, takut kehujanan di jalan yang akhirnya batal ke gereja. Ketika hamba Tuhan mengeur melalui firman, kita merasa disinggung dan dengan ’sumpah serapah’ kita tidak mau lagi datang ke gereja itu. Ketika doa belum juga dijawab Tuhan, kita mulai ogah-ogahan dan tidak lagi serius mencari Tuhan. Itu adalah beberapa contoh sederhana bukti kurangnya respon kita terhadap anugerah keselamatan yang telah kita terima di dalam Kristus Yesus dan bukti dangkalnya iman. Bagaimana bila kita dihadapkan dengan penderitaan dan aniaya?
Paulus dalam perjalanan hidupnya tidak pernah luput dari aniaya dan fitnah. Tidah hanya datang dari pihak luar, tetapi juga dari orang-orang yang tahu kebernara firman Tuhan alias saudara seiman. Tertulis, “Di situ imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi yang terkemuka datang menghadap dia dan menyampaikan dakwaan terhadap Paulus. Kepadanya mereka meminta suatu anugerah, yang merugikan Paulus, yaitu untuk menyuruh Paulus datang ke Yerusalem. Sebab mereka sedang membuat rencana untuk membunuh dia di tengah jalan.” (Kisah 25:2-3). Banyak orang termasuk para tokoh agama yang selalu berusaha dengan 1001 macam cara untuk menangkap dan membunuh Paulus. Apa yang dialami oleh Paulus itu sungguh berat karena semua orang menginginkan kematiannya. Tetapi, bagaimana sikap Paulus? Dia sama sekali tidak prnah mengeluarkan kata-kata penyesalan, tidak ada keluh-kesah, bersungut-sungut, apalagi menyalahkan Tuhan serta menyesali jalan hidupnya sebagai rasul. Himpitan, tindasan, kesesakan dan penderitaan bukan menjadi alasan bagi Paulus untuk tidak bersemangat dalam melayani Tuhan serta memberitakan Injil KerajaanNya kepada semua orang, bahkan dia berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21).
Bukankah masalah dan pendertiaan yang kita alami saat ini tidak seberat yang dialami oleh Paulus? Marilah kita memeriksa diri kita seberapa besar kasih kita kepada Tuhan yang lebih dulu menderita bahkan rela mati bagi kita.
Layanilah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan jangan lagi mengeluh!
DIarsipkan di bawah: Renungan Harian


