Haus Akan Firman Tuhan

– Diambil dari bacaan Kidung.Com, EDISI 30 November 2008 -

Baca: Mazmur 119:97-104

“Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani,
supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”
(1 Petrus 2:2)

Di barisan belakang kami ada seorang pemuda berusia 20 tahunan. Pemuda ini bercerita kepada kami bahwa ia baru empat bulan mengikut Tuhan Yesus, dan sangat ingin belajar lebih banyak tentang berbagai ajaran dalam Alkitab. Saya mengusulkan agar ia mengunjungi salah satu website yang memiliki menu “Discovery Series” sebagai salah satu sumber yang memungkinkan bagi dia untuk belajar sendiri.
Malam berikutnya pemuda tersebut kembali mengikuti seminar dan bercerita bahwa ia tidak tidur sampai pukul 03.30 karena terus membaca dan merenungkan kebenaran Alkitab yang ia temukan dari website tersebut. Dengan senyum lebarnya, ia mengatakan bahwa ia tidak akan pernah merasa cukup membaca dan menikmati firman Tuhan (1 Petrus 2:2).
Sungguh besar kehausan rohaninya! Kegembiraan yang dirasakan pemuda tadi dapat mengingatkan kita akan keajaiban Alkitab dan kebenarannya yang memperkaya jiwa. Kita memang dapat dengan mudah tidak mengindahkan firman Tuhan di tengah dunia yang penuh dengan jeritan yang meminta perhatian kita. Akan tetapi, sesungguhnya hanya di dalam Alkitab kita dapat menemukan hikmat Allah bagi setiap pergumulan kita, jawaban Allah terhadap setiap pertanyaan kita, dan kebenaran Allah bagi setiap pemahaman kita. Kita patut merasa haus terhadap kebenaran-kebenaran yang luar biasa ini

BELAJAR ALKITAB MEMBUAT KITA BIJAK; MEMERCAYAINYA MEMBUAT KITA AMAN; MELAKUKANNYA MENJADIKAN KITA SUCI

Peperangan Rohani

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 29 November 2008 -

Baca: Efesus 6:10-20

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;” Efesus 6:11

Rasul Paulus menggambarkan bahwa kehidupan rohani orang Kristen seperti berada di medan peperangan. Selama hidup di dunia ini kita akan terus berperang melawan Iblis. Bukan peperangan yang bersifat jasmani, di mana musuh terlihat dan dapat diukur kekuatannya, melainkan peperangan yang bersifat rohani (spiritual warfare). Jadi musuh kita tidak kelihatan secara kasat mata. “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12).
Peperangan inilah yang sangat sulit, karena bisa berlansung kapan saja dalam waktu 24 jam dan di mana saja. Kita juga tidak tahu secara pasti kapan musuh itu datang dan menyerang kita, yang jelas “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8b). Kita tidak boleh lengah sedikit pun dan harus ekstra waspada terhadap segala bentuk serangan iblis, karena lengah berarti membuka peluang untuk kalah.
Secara manusia kita tidak akan mampu menang melawan serangan Iblis, tetapi bersama Tuhan kita akan dapat mengalahkan Iblis beserta pasukannya. Jadi kita harus kuat di dalam Tuhan, yang artinya kita harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Ada dua fungsi alat perlengkapan perang itu yaitu perlengkapan untuk bertahan  dan perlengkapan untuk menyerang. Perlengkapan untuk bertahan adalah iman, yang berfungsi sebagai perisai, “…dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,” (Efesus 6:16); sedangkan perlengkapan untuk menyerang adalah firman Tuhan, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum;” (Ibrani 4:12a-b). Ketika Tuhan Yesus sedang dicobai oleh Iblis di padang gurun, Dia menggunakan firman Allah sebagai alat untuk mengalahkannya. Oleh sebab itu kita harus selalu berjaga-jaga dan berdoa!

Hanya orang-orang Kristen yang kuat dan tangguh yang mampu meraih kemenangan di medan peperangan itu.

Upah Mengikut Yesus

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 28 November 2008 -

Baca: Matius 19:27-30

“Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: ‘Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?’ “ Matius 19:27

Di hari-hari ini kekristenan sedang dihadapkan pada dua masalah utama yaitu perihal materi dan paradigma yang salah kaprah. Banyak orang Kristen berpikir bahwa mengikut Yesus pasti diberkati dengan melimpah dan tidak akan berkekurangan, apalagi memang Tuhan sendiri menyatakan “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10b).
Hal inilah yang seringkali menjadi motivasi utama kita pergi ke geraja dan melayani Tuhan. Namin ketika kita rasa bahwa mengikut Yesus malah sering mendapat banyak masalah dan ujian, kita mulai kecewa dan mengeluh. Betapa sering kita mendengar perkataan yang serupa dengan perkataan Petrus. Kita cenderung menghitung untung rugi dalam melayani Tuhan. Petrus pun demikian, ia sudah meninggalkan rumahnya, ladangnya, kapalnya, dan mungkin keluarganya juga ia tinggalkan, tetapi Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, apa yang kami peroleh?”
Lalu Tuhan Yesus menjelaskan kepada murid-muridNya: pada waktu penciptaan kembali, yaitu kembalinya Kristus yang kedua kali Yesus menegaskan bukan kita akan memperoleh apa, melainkan kita akan dikembalikanNya kepada posisi semua dalam Kristus. Hal utama yang menjadi upah mengikuti Yesus adalah identitas asli yang dikembalikan: “…kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Petrus 1:18-19). Berarti kita adalah orang-orang mahal, identitas yang baru kita adalah ciptaan baru dalam Kristus (baca 2 Korintus 5:17). Tuhan adalah Allah yang adil, Dia tahu apa yang kita tabur untukNya dan Dia akan mengembalikan itu, bahkan kita akan “…menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Matius 19:29). Oleh karena itu berhentilah mengeluh, apalagi menyalahkan Tuhan!

“Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” (Wahyu 22:12)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 10.053 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: