– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 27 Januari 2009 -
Baca: Amsal 29:1-27
“Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.” Amsal 29:1
Ayat ini berbicara tentang kekerasan hati seseorang. Pada saatnya, sikap hati yang keras dalam diri seseorang akan menghancurkannya sendiri sampai tidak dapat dipulihkan lagi. Oleh karenanya kita harus berhati-hati dan selalu mengoreksi diri sehingga kita telepas dari sikap keras hati yang sewaktu-waktu bisa menjadi ‘bom waktu’ yang siap menghancurkan kita sendiri. Di dalam Perjanjan Lama, Firaun adalah contoh orang yang memiliki sikap keras hati yang akhirnya harus menuai akibatnya.
Ada beberapa karakteristik yang menunjukkan bahwa Firaun adalah orang yang keras hati:
1. Menghalangi orang lain beribadah kepada Tuhan. Ketika Tuhan berfirman kepada Firaun agar dia mengijinkan umat Israel pergi mengadakan perayaan bagiNya di padang gurun, Firaun tidak mengijinkan dan berkata “Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.” (Keluaran 5:2).
2. Hatinya tidak tulus. Suatu ketika hati Firaun sepertinya sudah lunak. Ia memberi kesempatan kepada bangsa Israel untu beribadah kepada Tuhan, padahal kenyataannya tidak! Ia tidak tulus dan masih saja menunda-nunda waktu. “Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa telah terasa kelegaan, ia tetap berkeras hati, dan tidak mau mendengarkan mereka keduanya…” (Keluaran 8:5)
Ketika berada dalam masalah, banyak orang Kristen yang begitu tekun berdoa dan rajin beribadah, tetap ketika masalah itu selesai, mereka tidak lagi setia beribadah kepada Tuhan dan menunda-nunda waktu untuk melayani Dia.
3. Masih saja tawar-menawar. Ketika berada dalam kesulitan yang hebat, di mana tulah menimpa keluarga dan rakyatnya, hati Firaun kelihatannya mulai mencair. Ternyata itu pun tidak benar. Firaun masih melakukan tawar-menawar. Bangsa Israel diperbolehkan mempersembahkan kepada Tuhan, asal tidak terlalu jauh (Keluaran 8:28), lalu hanya laki-laki saja yang boleh pergi (Keluaran 10:11). Hal ini menunjukkan bahwa Firaun memiliki pertobatan yang palsu, hatinya tetap saja keras. Sebagai akibatnya, Firaun dan seluruh rakyatnya harus mengalami penderitaan karena tulah. Bila kita memiliki sikap hati seperti Firaun, segeralah bertobat sebelum semuanya terlambat.
Jangan keraskan hati! Melainkan milikilah hati yang senantiasa mau dibentuk.
DIarsipkan di bawah: Renungan Harian


