Pergumulan Abraham (1)

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 28 Januari 2009 -

Baca: Kejadian 12:10-20

“Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta.” Kejadian 12:16

Abraham disebut sebagai bapa orang beriman, bahkan Alkitab menyatakan “…bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.” (Galatia 3:7,9) dan “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:14).
Mengapa Abraham disebut sebagai bapa orang beriman? Bila kita simak Kejadian 12:10-20 ini, bukankah apa yang dilakukan oleh Abraham itu menunjukkan bahwa ia tidak beriman? Saat bencana kelaparan menimpa negerinya, Abraham memutuskan untuk mengajak istrinya pergi ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing. Agar memperoleh kemudahan-kemudahan, ia sampai berdusta perihal jati diri Sarai dengan menyuruhnya demikian “Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.” (Kejadian 12:13).
Tindakan Abraham adalah manusiawi; Sebagai kepala rumah keluarga ia harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya. Ia tidak mau keluarganya kelaparan, sedangkan di Mesir pasti ada kelimpahan. Wajar kan kalau ia memutuskan pindah ke sana? Tapi masalahnya adalah saat ia meminta Sarai mengaku sebagai adiknya dan bukan isterinya. Alasan utama Abraham melakukan ini adalah karena ia takut kehilangan isterinya yang berarti pula ia akan kehilangan keturunan seperti yang dijanjikan Allah kepadanya. Suatu pergumulan iman yang berat bagi Abraham! Ia dihadapkan dengan kenyataan yang memaksanya mulai berkompromi dengan dunia. Memang orang-orang Mesir kagum melihat kecantikan Sarai, bahkan Firaun pun hendak mengambil Sarai sebagai isterinya. Namun saat itu pula Tuhan turun tangan dan langsung memporak-porandakan rencana raja Mesir itu, dan Tuhan menimpakan tulah kepada Firaun. Akhirnya Firaun berkata kepada Abraham “Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!” (Kejadian 12:19).

(bersambung)

Tinggalkan Balasan