Pergumulan Abraham (2)

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 29 Januari 2009 -

Baca: Kejadian 13:1-18

“Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia.” Kejadian 13:1

Menyandang status sebagai bapa orang beriman tidaklah secara otomatis membuat Abraham menjadi manusia sempurna. Dalam rentang waktu tertentu ia harus mengalami jatuh bangun di dalam pergumulan imannya. Menelusuri latar belakang keluarganya, sebenarnya Abraham memang bukan lah berasal dari keluarga yang percaya kepada Tuhan, tetapi dari keluarga yang menyembah berhala. Bahkan ayahnya yaitu Terah, adalah penyembah berhala. Dengan latar belakang yang demikian, tidak mudah bagi Abraham untuk mengubah pola ibahdanya, sampai akhrinya Tuhan menyatakan diri kepadanya. Hal inilah yang membuat Abraham harus bergumul dengan imannya.
Karena campur tangan Tuhan semata Sarai tidak diperisteri Firaun, di mana raja itu lalu memberinya hadiah sambil mengusir Abraham agar segera meninggalkan Mesir. “Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.” (Kejadian 12:20). Ini menunjukkan tempat Abraham memang bukan di Mesir, tetapi di tanah Negeb.
Melalui pengalaman hidup Abraham ini kita dapat belajar bahwa ketika Tuhan berjanji, Ia sendiri juga yang akan menyediakan sarananya agar janji itu dapat digenapi dalan kehidupan kita, meskipun harus melewati proses demi proses. Yang menjadi masalah adalah kita seringkali tidak tahan dan kurang sabar saat berada dalam proses tersebut. Akibatnya ketika janji itu belum juga tergenapi, kita sudah tidak lagi bertekun menantikan Tuhan. Kita sudah menyerah, kecewa, menyalahkan Tuhan dan mulai merancang jalan sendiri. Alkitab menyatakan, “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36). Saat datang ke Mesir, Abraham berpikir bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Jalan pintas ditempuh Abraham sebelum ia mengalami penggenapan janji Tuhan. Di dalam iman Kristen tidak ada jalan pintas. Pengalaman hidup di dalam iman harus melewati proses dan langkah demi langkah. Semua jalan pintas hanya akan menjadikan seseorang itu matang sebelum waktunya. Meskipun Abraham harus mengalami jatuh bangun, rencana dan janji Tuhan tidak pernah gagal.

Untuk memperoleh janji Tuhan kita harus melewati proses dan dibutuhkan ketekunan!

Tinggalkan Balasan