Diperdamaikan dan Dibenarkan

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 13 Februari 2009 -

Baca: Roma 5:1-11

“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Roma 5:10

Karena dosa, manusia terpisah dari Allah dan menjadi seteruNya. Manusia tidak bisa bersekutu dengan Allah karena terbentang jurang pemisah (dosa) yang begitu dalam. Sebagai Pribadi  yang penuh kasih karunia, Allah sendiri akhirnya mengambil inisiatif pengadaan jalan keselamatan, “…sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)
Kematian Kristus menggantikan orang berdosa menjadi jalan pendamaian manusia dengan Allah. Istilah ‘pendamaian’ diterjemahkan dari kata benda Yunani katallage, yang kata kerjanya ialah katallaso, artinya penyesuaian perbedaan yang menimbulkan permusuhan antara dua pihak dengan menggunakan alat penukaran tertentu, sehingga tercipta sebuah hubungan yang baru. Ketika kita bertoba dari dosa-dosa kita, lalu percaya dan beriman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, perseteruan antara manusia dengan Allah dihancurkan, dan terjadilah pembaharuan hubungan antara kedua pihak. Alkitab menyatakan: “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.” (2 Korintus 5:19a).
Allah menyediakan jalan pendamaian itu melalui Yesus Kristus bagi manusia, sehingga manusia diubah dan dianggkat ke tingkat persekutuan sesuai dengan maksud dan rencana penciptaan manusia. Kita patut bersyukur, karena iman dan percaya kepada Yesus Kristus oleh Allah kita dinyatakan sebagai manusia baru “…yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:24) dan mempunyai hak legal dalam Kerjaan Allah. Oleh iman kepada Yesus kita yang berdosa beroleh pengampunan dan dibebaskan dari hukuman karena dosa, bahkan dianggkat sebagai anak-anak Allah. Sungguh anugerah luar biasa! Kita yang seharusnya dihukum dan beroleh murka Allah kita beroleh pendamaian dan pembenaran.

Tanpa Anugerah Tuhan kita semua binasa!

Adilkah Tuhan?

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 12 Februari 2009 -

Baca:Ayub 8:1-22

“Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran?” Ayub 8:3

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang senang berada dalam kesesakan dan penderitaan, apalagi bila persoalan yang dialaminya datang silih berganti  (beruntun). Dalam kondisi seperti itu biasanya orang akan berontak kepada Tuhan dan menganggapNya tidak adil.
Ayub pun mengalami itu. Ia mengalami penderitaan bertubi-tubi padahal hidupnya benar dan saleh; semua anaknya mati dan harta bendanya ludes, bahkan isterinya pun mengolok dia, katanya “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9). Tidak dapat kita bayangkan bertapa menderitanya Ayub saat ini! Dan dalam pasal 3 kita baca bagaimana Ayub berkeluh kesah, sampai-sampai ia mengutuk dirinya sendiri, “Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan.” (Ayub 3:3). Ayub protes kepada Tuhan, “Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku?” (Ayub 7:20), “sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku.” (Ayub 7:15). Melihat kondisi Ayub yang memprihatinkan, Bildad orang Suah menegurnya, “Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?” (Ayub 8:2).
Mungin saat ini kita mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan Ayub. Kita mengeluh, frustrasi dan benar-benar kecewa kepada Tuhan, mengapa masalah dan penderitaan terus menimpa kita, padahal kita sudah tekun melayani Tuhan dan menjaga hidup sesuai dengan kebenaran firman. Benarkan Tuhan itu tidak adil? Ingat! Setiap peristiwa yang kita alami tdak ada satu pun yang luput dari pengawasanNya! Adakalanya Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk menguji kadar iman kita. Teguran Bildad membuat Ayub segera sadar, kemudian dengan penuh rasa penyesalan ia datang kepada Tuhan, memohon belas kasihanNya dan mencabut semua kata-kata yan pernah dia ucapkan (baca Ayub 42:6). Akhirnya Tuhan memulihkan keadaan Ayub, bahkan Dia memberikan kepadanya dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.

Semakin diproses, semakin kita menjadi bejana yang mulia di mata Tuhan!

Menghormati Hamba Tuhan

– Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 11 Februari 2009 -

Baca: Ibrani 13:17-25

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” Ibrani 13:17a

Ada pepatah yang mengatakan: ‘Tak ada gading yang tak retak’, artinya di dunia ini tidak ada sesuatu yang sempurna; tidak ada manusia super, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan, masing-masing kita memiliki banyak kekurangan/kelemahan, begitu juga dengan geraja maupun para hamba Tuhan.
Seorang hamba Tuhan memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat. Mereka dipanggil oleh anugerah Tuhan untuk bertanggung jawab memelihara domba-doma dan berjaga-jaga atas keselamatan jiwa kita. Maka dari itu kita tidak boleh meremehkannya, apalagi tidak berlaku hormat kepadanya. Kita harus taat dan menurut kepada mereka dalam hal-hal rohani, menaruh rasa hormat dan meneladani pengorbanannya dalam hal pelayanan yang dilakukannya bagi kita. Hamba Tuhan adalah juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan masih banyak kekurangannya. Tetapi kita sebagai jemaat seringkali tidak menyadarinya, kita dengan mudahnya mencemooh dan cenderung menghakimi hamba Tuhan yang melakukan kesalahan, bahkan kisah tentang mereka selalu jadi gosip terhangat di antara jemaat.
Alkitab mengajakan, “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar.” (1 Timotius 5:17). Bila kita diberi pengajaran yang keras berlandaskan firman Tuhan, janganlah marah atau sakit hati. Siapakah kita ini? Bukankah kita juga penuh kekurangan dan tidak sempurna? Marilah saling meringankan beban moral yang harus ditanggung para hamba Tuhan dengan membantu dan mendukungnya menjalankan Amanat Agung Sorgawi tersebut. Bila kita menanam kepahitan dan kebencian, damai sejahtera Allah akan berlalu dari hati kita. Daud, yang walaupun hidupnya dibuat sengsara oleh Saul, saat memiliki kesempatan membalas tidak berani melakukannya dan berkata “…sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?” (1 Samuel 26:9). Karena berani mengolok pimpinannya (Musa), Miryam dan Harus harus menuai akibatnya: Mirya terkena kusta.

Berhentilah mendiskreditkan hamba Tuhan, karena mereka pemimpin rohani kita!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 10.032 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: