Bagaimana Ibadah Kita?

- Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 22 Maret 2009 -

Baca: Mazmur 2:1-12

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar,” Mazmur 2:11

Beribadah kepada Tuhan berarti berada dalam keadaan takjub sepenuhnya akan Tuhan. Bicara tentang ibadah, yang terbersit adalah kegiatan-kegiatan lahiriah yang kita lakukan di gereja atau persekutuan-persekutuan doa, di mana kita bernyanyi, berdoa dan mendengarkan khotbah. Tetapi dari penilaian Tuhan, aktivitas-aktivitas tersebut tidak sepenuhnya dianggap sebagai ibadah sejati bila kita mengerjakannya hanya sebagai rutinitas belaka. Janganlah hanya fokus kepada ibadah lahiriah dan melupakan arti ibadah sesungguhnya. Tuhan berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Matius 15:8-9).
Bagaimana agar ibadah berkenan di hati Tuhan? Ibadah dan penyembahan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Beribadah kepada Tuhan berarti sujud dalam penghormatan kepadaNya, digambarkan sebagai tindakan membungkuk di hadapan Pribadi yang agung sebagai tanda kerendahan hati dan pengabdian. Bukan membungkuk secara lahiriah, melainkan tunduknya manusia batiniah kita. Ibadah sejati adalah tanggapan sepeunuhnya hati kita atas kebesaran Tuhan yang kita wujudkan melalui pujian dan penyembahan yang kita naikkan sepenuh hati. Banyak orang Kristen memuji Tuhan tanpa semangat, asal-asalan dan ogah-ogahan. Siapakah kita ini? Bukankah kita sedang berhadapan dengan Pribadi yang agung, mulia dan berkuata, yang menciptakan kita dan juga alam semesta ii? Itulah sebabnya Pemazmur dengan tegas menghimbau kita: “Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan,” (ayat 11-12a dari Mazmur 2).
Kita sungguh-sungguh memikirkan dan merasakan siapa Tuhan itu dan apa yang telah Dia perbuat bagi kita, kita tidak akan menganggap remeh setiap peribadatan dan bersikap seenaknya lagi. Pujian syukur dan seruan haleluya akan terus mengalir dari dasar hati dan keluar melalui mulut kita karena kita berada dalam ketakjuban akan keagungan Tuhan Allah kita.

Beribadahlah kepada Tuhan dengan segenap hati dan jiwa!

Hidup Adalah Melayani

- Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 21 Maret 2009 -

Baca: Ibrani 6:9-12

“Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” Ibrani 6:10

Pelayanan bukanlah istilah asing bagi orang Kristen karena kekristenan memang tidak terpisahkan dari pelayanan. Semua orang Kristen harus melayani sekuat tenaga, sama seperti Yesus saat berada di bumi. Ia berkata, “Bapa-Ku  bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yohanes 5:17). Oleh karenanya kita diingatkan agar menggunakan waktu sebaik-baiknya bekerja bagi Tuhan melalui pelayanan.
Gereja pun menghimbau jemaat untuk terlbat langsung dalam pelayanan. Para hambat Tuhan ingin agar masing-masing anggotanya menjadi jemaat yang aktif, bukan datang ke gereja hanya untuk menyanyi, mendengarkan kotbah lalu pulang, namun tergerak untuk melayani Tuhan sesuai dengan talenta yang kita miliki.
Gereja adalah tubuh Kristus yang terdiri dari banyak bagian, dan setiap bagian memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Alkitab menyatakan, “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-…” (Efesus 4:16). Untuk tujuan itulah kita diberi karunia dan talenta yang berbeda-beda agar kita dapat menyelesaikan tugas pelayanan yang baik. Tiada ada alasan bagi orang Kristen uuntuk tidak terlibat dalam pelayanan, sekecil apa pun. Ingat, pada saatnya Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban kita atas apa yang telah Dia beri (baca perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30). Jangan pernah berpikir bahwa kita hanya memiliki sedikit talenta atau tidak bisa apa-apa, lalu hal itu kita jadikan alasan untuk tidak melayani. Jika kita berbuat demikian, berarti kita tidak menghargai kasih karunia Tuhan, sama seperti hamba yang diberi satu talenta oleh tuannya, bukannya mengusahakan supaya talentanya bertambah, malahan hanya menyimpannya. Meskipun manusia menganggap remeh dan sepele, pelayanan kita, di mata Tuhan kita sangat berharga. Apa pun yang kita kerjakan dalam pelayanan, Bapa di sorga sangat memperhatikan dan memperhitungkan. Salau ada upah untuk setiap jerih payah!

Karena itu tetaplah giat (baca 1 Korintus 15:58)

Jangan Tamak

- Diambil dari bacaan AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN, EDISI 20 Maret 2009 -

Baca: Lukas 12:13-21

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12:15

Hidup di masa serba sulit ini bagi masyarakat kecil seperti pekerja kasar, buruh pabrik, pedagang kecil, guru honorer dan lainnya adalah perjuangan tanpa kenal lelah. Mereka memeras otak sedemikian agar penghasilan yang sangat minim itu bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya sekolah anak-anaknya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana susahnya mereka! Di sini lain, para pejabat dan orang-orang ‘besar’ bergelimang harta, tidak pernah berhenti menumpuk harta meski cara yang ditempuhnya tidak wajar. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan segala keinginannya.
Alkitab menyatakan bahwa “…pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.  Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.” (2 Timotius 3:1-2a). Sekarang ini banyak orang menjadi tamak dan materialistis. Sifat materialistis itu berakar dari ketamakan. Ketamakan membuat seseorang melakukan apa saja untuk memperoleh apa yang diinginkannya, meski itu merugikan orang lain. Keadaan ini tidak jauh beda dengan zaman nabi Mikha. Orang-orang kaya Yehuda menambah hartanya dengan cara yang jahat. Mereka menyalahgunakan kekuasaannya dengan menindas orang lemas/miskin. Harta kekayaan telah membutakan mata rohaninya. Mereka berpikir bahwa dengan harta yang melimpah mereka bisa menikmati kebahagian sejati, seperti yang dilakukan orang kaya yang bodoh ini: “…aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Lukas 12:18-19).
Tuhan tidak pernah tinggal diam, penghakiman akan datang dan tidak terelakkan! Mereka pasti menuai apa yang telah ditaburnya. Harta di dunia ini tidak ada yang abadi. Keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan jiwa tidak dapat dibeli dengan uang atau harta sebanyak apa pun. Apalah artinya semua itu bila akhirnya kita binasa?

Ketamakan akan membawa seseorang jatuh ke dalam berbagai dosa!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 10.189 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: