Masih adakah orang benar?

Baca: Yeremia 5:1-9

Nas hari ini mengingatkan kita pada dialog antara Abraham dan Tuhan menjelang kehancuran Sodom dan Gomora (Kej. 18:16-33). Ketika Tuhan membeberkan rencana-Nya untuk membinasakan kota yang “sangat berat dosanya” itu, Abraham memohon agar orang benar tidak turut dibinasakan bersama-sama orang fasik.Seperti yang dikenal oleh banyak pembaca, dalam kisah yang luar biasa itu Abraham menawar-nawar jumlah orang benar yang masih ada di kota, mulai dari lima puluh orang sampai sepuluh orang. Keputusan Tuhan baru jatuh setelah permintaan terakhir itu. Baca lebih lanjut

Panggilan Hidup Kudus

- Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus -

Bacaan Alkitab hari ini:  1 Tesalonika 4

Didalam tiga pasal yang terdahulu, Paulus memuji iman, kasih dan pengharapan jemaat Tesalonika. Mereka tetap teguh dan tak tergoyahkan walaupun hidup di bawah penderitaan karena iman mereka di dalam Yesus Kristus. Namun, sangat disayangkan bahwa ada juga saudarasaudara yang telah dikalahkan bukan oleh serangan fisik dari luar, melainkan serangan hawa napsu dari dalam diri sendiri. Baca lebih lanjut

Aduh, dadaku!

Baca: Yeremia 4:19-31

Sebagai bagian dari masyarakatnya, Yeremia dipanggil untuk meneruskan pesan Tuhan bagi bangsanya. Namun, bencana yang disingkapkan kepadanya begitu memilukan hatinya sampai-sampai ia berseru, “Aduh, dadaku, dadaku!” (19). Sementara bagian terbesar bangsanya hidup seolah tanpa masalah, nabi diberi ketajaman untuk melihat panji perang (21) dan mendengar bunyi sangkakala dan deru pasukan yang bertempur (21, 29). Betapa mengerikan! Semua ini bakal terjadi karena kebodohan umat Tuhan: “anak-anak tolol” yang pintar berbuat jahat (22)!

Bencana yang bakal menelan korban itu kerap digambarkan dalam pemberitaan para nabi lainnya, apa yang terjadi dalam dunia manusia disandingkan pula dengan kejadian-kejadian dahsyat di tata alam. Yeremia menggunakan istilah tohuwabohu, istilah yang persis sama untuk melukiskan bumi yang “belum berbentuk dan kosong” pada waktu penciptaan (23; bdk. Kej. 1:2). Bumi yang kacau balau dan tak berpenghuni dibandingkan dengan keadaan porak-poranda akibat perang (25).Gambaran mengenai gunung terguncang, langit menggelap, dan kejadian alam yang serba kacau terkait datangnya hari Tuhan, adalah hari penghukuman yang sangat menggentarkan manusia Ibrani kuno (bdk. Yes. 13:7-9; Yeh. 30:1-4). Luar biasanya, di antara kekacauan perang yang berkecamuk, bangsa yang terancam itu masih sempat berdandan bagai perempuan sundal untuk menawan pihak musuh (30). Namun, kali ini ia merintih kesakitan, binasa di tangan musuhnya (31).

Betapa ironis! Umat yang menolak cinta sejati Tuhannya akhirnya ditolak para pencintanya! Kehancuran bangsa yang menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan menjadi peringatan bagi kita. Sebagai umat yang ditempatkan Tuhan di negeri ini, kita wajib prihatin bila kekacauan dan kejahatan menandai hidup sehari-hari, dengan menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual bangsa berdasarkan firman Tuhan. Jika tidak, akan semakin banyak orang yang pintar untuk berbuat jahat dan bodoh untuk berbuat baik (22). Aduh!

- Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  -

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 9.981 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: