Membangun Tanggung Jawab

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: Kejadian 4:1-12

Setiap status dan hubungan selalu disertai oleh adanya tanggung jawab. Sebagai seorang kakak, Kain seharusnya menyadari tanggung jawabnya untuk melindungi adiknya. Ironisnya, kain justru menjadi pembunuh adiknya. Dengan mengatakan, “Apakah aku penjaga adikku?” Kain menyangkal tanggung jawabnya sebagai seorang kakak.

Allah menuntut agar setiap orang hidup secara bertanggung jawab sesuai dengan statusnya. Kisah menyedihkan tentang Imam Eli yang tidak sanggup mengarahkan anak-anaknya yang kehidupannya kacau menunjukkan bahwa Allah menuntut setiap orang tua untuk bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya (1 Samuel 2:12-36; 3:11-14).

Kita harus menyadari bahwa seorang suami atau seorang istri memiliki tanggung jawab sebagai suami atau sebagai istri. Orang tua memiliki tanggung jawab sebagai orang tua dan seorang anak memiliki tanggung jawab sebagai anak. Seorang majikan memiliki tanggung jawab sebagai majikan dan seorang pekerja memiliki tanggung jawab sebagai pekerja. Demikianlah seterusnya. Status kita menentukan tanggung jawab kita dan tanggung jawab tersebut tidak bisa ditukar dengan tanggung jawab orang lain.

Apakah Anda telah menjalani hidup secara bertanggung jawab sesuai dengan status yang Anda sandang? Sebagai anggota gereja, apakah Anda telah melaksanakan tanggung jawab Anda terhadap gereja? Apakah Anda telah melayani sesuai dengan karunia yang Anda miliki? Sebagai pelajar atau mahasiswa, apakah Anda telah melaksanakan tanggung jawab Anda untuk belajar? [P]

Kolose 3:23
“Apapun juga yang kamu perbuat,  perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Share

Santa with Milk and Cookie

Share

Diselamatkan Dari Ketiadaan Pengharapan

Baca: Zakharia 12:1-9

Hidup seperti apakah yang tidak berpengharapan? Hidup di bawah bayang-bayang murka Allah. Orang berdosa, tidak dapat melepaskan diri dari tuntutan keadilan Allah. Yang ada hanyalah bayang-bayang hukuman berupa kebinasaan yang mengerikan!

Penolakan Israel terhadap penggembalaan Tuhan menyeret mereka ke dalam suatu kondisi hidup yang tidak lagi berpengharapan. Sekian lama bangsa ini berada dalam cengkeraman bangsa asing yang silih berganti menindas mereka. Puncaknya, semua bangsa di muka bumi akan bersatu menyerang mereka (ayat 3b). Sementara mereka sendiri terpecah saling bermusuhan.

Di saat seperti itulah Allah menyatakan kedaulatan-Nya dengan menyelamatkan umat-Nya. Allah tidak membiarkan mereka terus menerus ditindas musuh-musuhnya. Dalam penyelamatan ini Allah menjadikan umat-Nya seperti pasu yang memusingkan (ayat 2) dan batu yang menghancurkan (ayat 3) sehingga tidak ada satu pun kekuatan dunia yang sanggup membinasakan mereka. Sebaliknya yang terjadi adalah kehancuran bangsa-bangsa asing ini. Penyelamatan Allah akan memulihkan juga perpecahan yang terjadi diantara umat-Nya dan menghapuskan keangkuhan rohani yang selama ini menjadi penyebab perpecahan itu (ayat 7). Mereka akan bersatu kembali dan mengalahkan musuh-musuhnya. Akhirnya Tuhan akan memuliakan serta mengokohkan mereka kembali sebagai satu bangsa.

Kita harus menyadari bahwa kita diselamatkan di saat tanpa pengharapan. Bukankah kita, orang Kristen ini dahulunya termasuk bilangan orang kafir, yang jauh dari Allah? Bukankah dahulu kita mengambil jalannya sendiri yang menuju pada kebinasaan? Dan bukankah dahulu maut menjadi bagian tak terpisahkan dari kita? Justru di saat seperti itulah Tuhan Yesus datang menganugerahkan keselamatan kepada kita. Betapa ajaib karya Allah dalam hidup kita umat tebusan-Nya.

Dikutip dari Santapan Harian. Hak Cipta : Yayasan Persekutuan Pembaca Alkitab. Isi Santapan Harian lainnya seperti pengantar kitab, artikel ringkas, sisipan, dlsb. dapat diperoleh dengan membeli buku Santapan Harian dari Yayasan PPA: Jl. Pintu Air Raya No 7 Blok C4, Jakarta 10710, ph:3442461-2; 3519742-3; Fax: 344972; email:ppa@ppa.or.id. Informasi lengkap : PPA di: http://www.ppa.or.id

Share

Pijakan yang Kuat

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI 18 Desember 2009

Baca: Kisah Para Rasul 9:1-16
Ayat Mas: Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:13
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Timotius 1-3

Seorang petani berduka. Keledainya—harta tunggalnya, terperosok ke sumur. Ia minta tolong pada tetangga, tetapi usahanya sia-sia. Semua membujuk supaya ia merelakan keledainya. Dan, agar kelak bangkai si keledai tak menimbulkan bau dan penyakit, tetangga mengusulkan agar sumur itu ditimbun tanah. Sementara tanah ditimbunkan ke sumur, si keledai terus merintih. Mereka berpikir si keledai pasti sudah mati. Namun, semua kaget ketika keledai itu melompat keluar! Ternyata, setiap gundukan tanah yang menimpa dan menyakiti si keledai itu selalu dikibaskannya, dan lama-lama menumpuk di bawah kaki dan menjadi pijakan baru baginya.

Tatkala Paulus melayani Tuhan, muncul banyak tantangan, hambatan, bahkan aniaya. Namun, ia tak lekas putus asa dan menyerah, sebab ia sangat yakin akan panggilannya memberitakan Injil bagi bangsa-bangsa non-Yahudi. Dan, pengalaman bergaul dengan Tuhan membuatnya kuat menanggung segala hal. Bahkan, segala hambatan justru menjadi pijakan baru baginya untuk memenuhi panggilan pelayanan Tuhan baginya, menjadi “… alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (ayat 15). Dan bagaimana Tuhan membuat Paulus bisa memberitakan Injil kepada raja-raja dan penghuni istana? Ternyata melalui aniaya dan penjara, ia berjumpa para pejabat tinggi yang mengadili kasusnya (bandingkan Kisah Para Rasul 24,25,26,28).

Jika hari ini Anda mengalami kesulitan, hambatan, dan tantangan: jangan menyerah. Dengan mata iman yang mengarah kepada Kristus, mari jadikan segala kesulitan itu menjadi pijakan kuat untuk mencapai tujuan Tuhan bagi hidup kita.

Ketika kita meminta Allah memimpin hidup kita, setiap peristiwa pasti berguna bagi kebaikan kita

Penulis: Susanto, S.Th.

Share

Santa Loves Children

Share