Ketekunan Dalam Berdoa

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: Kolose 4

Apakah doa merupakan ban cadangan atau kemudi dalam kehidupan Anda?
Seringkali kita menempatkan doa di urutan terakhir sesudah kita berusaha secara maksimal. Kita berharap bahwa Tuhan akan menyempurnakan dan membuat segala usaha kita menjadi suatu mujizat. Rasul Paulus menekankan pentingnya hidup bertekun dalam doa sebagai gambaran dari iman yang hidup. Ketekunan merupakan perisai yang kokoh bagi sikap hati yang menggerutu, mempersalahkan Tuhan, dan mogok berkomunikasi dengan-Nya. Ketekunan dalam berdoa dilakukan dengan cara menyertakan ucapan syukur di dalam doa.  Sebagai contoh, Eprafas yang bergumul dalam kehidupan doanya meyakini bahwa apa pun dan kapan pun doanya dijawab, semuanya itu merupakan kehendak Tuhan bagi kebaikannya (4:12).

Bagi Rasul Paulus, mitra doa merupakan gambaran kesatuan hati umat Tuhan. Tiga hal yang diminta Rasul Paulus dalam pergumulannya saat itu, yaitu: Pertama, agar Allah membuka pintu bagi pemberitaan Injil. Kedua, agar ia memiliki kesempatan untuk memberitakan Injil Kristus; dan Ketiga, agar pesan Injil yang disampaikannya dapat dimengerti dengan jelas oleh para pendengarnya (4:3).

Sudahkah ketekunan dalam berdoa membuat Anda memahami kehendak Allah dalam hidup Anda? Milikilah jam doa dan alamilah kuasa doa yang mengubahkan hidup Anda dengan cara melatih hidup bersyukur dalam segala hal. Relasi dengan Tuhan harus terlihat juga dalam relasi dengan sesama, di mana seorang percaya harus menjadi alat di tangan Tuhan yang menjawab doa-doa dalam segala situasi kehidupan.  [YLW]

Share

Orang Kristen Masa Depan

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: Kolose 3

Mana yang benar: Konsep tentang hidup “bagaimana nanti” atau “nanti bagaimana”?
Rasul Paulus menasihati jemaat untuk memikirkan perkara “yang di atas” (3:1-2), yaitu dengan kesadaran bahwa ada kehidupan dalam kekekalan dan bahwa suatu hari kelak kita harus mempertanggungjawabkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan. Kesadaran tersebut akan mempengaruhi cara hidup, tingkah laku, pikiran, dan perkataan kita. Hidup yang sudah ditebus oleh Kristus merupakan suatu proses perubahan terus-menerus untuk menanggalkan kehidupan duniawi yang lama dan menggantikannya dengan kehidupan rohani yang baru, sehingga karakter kita terus-menerus diperbaharui menjadi semakin menyerupai gambar Allah (3:9-10).

Bagaimana seorang beriman bisa mengalami perubahan karakter? Pertama, dengan menumbuhkan karakter ilahi dalam kehidupan kita (3:12-15). Kedua, dengan menerapkan tingkah laku yang mulia (3:16-17) yang terlihat nyata di dalam berbagai relasi kehidupan, baik di dalam maupun di luar rumah tangga (3:18-21). Dengan demikian, pengharapan akan masa depan, yaitu hidup bersama dengan Kristus, sudah bisa kita rasakan sekarang di dunia ini.

Apa yang kita perbuat pada hari ini akan menentukan bagian yang ditentukan bagi kita didalam kekekalan. Sudahkah kita mempraktikkan perbuatan baik yang sejalan dengan karakter seorang yang sudah mengalami penebusan Kristus? Bangunlah karakter Anda melalui kebiasaan hidup yang baik dan hati yang takut akan Tuhan. Ingatlah bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengubah hati manusia. [YLW]

Share

Hidup Dalam Kristus

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: Kolose 2

Hanya Kristus saja atau Kristus Plus?
Rasul Paulus mengingatkan bahwa dalam kehidupan jemaat, ada orang yang sudah menerima ajaran Kristus, tetapi masih hidup menurut keinginannya sendiri dengan menambahkan banyak tradisi yang salah dan tidak perlu (2:16-17). Rasul Paulus menekankan bahwa hidup dalam Kristus membuat kita dimampukan untuk hidup kudus, benar, dan tidak bercela, karena seluruh kepenuhan ke-Allah-an berdiam secara jasmaniah di dalam Kristus (2:9-10). Status jemaat Kolose yang baru seharusnya diiringi dengan mempertahankan kemenangan iman dalam segala aspek kehidupan. Iman di dalam Kristus berarti menyalibkan kehidupan yang lama dan diperbaharui di dalam Dia. Orang beriman tidak perlu mengikuti berbagai aturan upacara keagamaan, karena aturan-aturan tersebut telah digenapi di dalam Kristus (2:16-17).

Meskipun jemaat Kolose hidup dalam ancaman ajaran doktrin sesat dan tradisi moral yang berdosa, mereka tetap bisa terus bertumbuh. Rasul Paulus menjelaskan dengan gambaran bahwa suatu pohon dapat bertumbuh dan berbuah dengan baik, hanya jika ia memiliki dasar akar yang kokoh (2:7). Kunci pertumbuhan adalah hidup dalam Kristus. Kristus bukan hanya dasar, tetapi sekaligus bangunan dan isi hidup kita.

Inti kekristenan bukanlah suatu kumpulan resep cara hidup atau suatu daftar peraturan untuk menuju kesempurnaan dan kesucian hidup, melainkan relasi dengan Kristus. Marilah kita menyerahkan seluruh tubuh dan pikiran kita kepada keinginan Roh Kudus, sehingga perubahan hidup terjadi bukan sebagai hasil pemaksaan, melainkan karena karakter kita dibentuk oleh Roh Kudus. [YLW]

Share

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 9.782 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: