Pasangan Yang Tidak Seimbang

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

Baca: 2 Korintus 6

Apakah yang dimaksud dengan perkataan “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya” (6:14)?
Perkataan “merupakan pasangan yang tidak seimbang” dalam ayat ini sebenarnya berarti mengenakan sebuah kuk (bajak) pada dua binatang secara tidak seimbang, misalnya bila kuk tersebut dikenakan pada seekor lembu dan seekor keledai (Ulangan 22:10). Untuk jemaat Korintus, larangan di atas bisa dikenakan pada setiap hubungan yang mempengaruhi iman atau setiap hubungan yang membuat kita tidak bisa mempertahankan kekudusan hidup. Mengingat bahwa kota Korintus adalah sebuah kota kafir, larangan itu dimaksudkan agar jemaat di kota Korintus tidak membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh praktik penyembahan berhala dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Hal ini tidak berarti bahwa jemaat Korintus harus menjauhi semua hubungan dengan orang kafir, tetapi agar mereka waspada dan membatasi diri agar tidak terbawa oleh pengaruh kebersamaan yang bisa meruntuhkan iman Kristen (bandingkan dengan Yohanes 17:15; 1 Korintus 5:9-11).

Peringatan terhadap jemaat Korintus di atas merupakan peringatan bagi orang-orang Kristen pada masa kini untuk bersikap waspada dan selektif sebelum memulai suatu hubungan, termasuk hubungan bisnis, hubungan persahabatan, dan sebagainya. Salah satu hubungan yang sangat mempengaruhi iman adalah hubungan pernikahan. Mengingat bahwa bagi seorang Kristen, pernikahan adalah hubungan seumur hidup, akan sangat bijaksana dan aman bila setiap orang Kristen yang belum menikah bertekad untuk tidak berpacaran dengan orang yang tidak beriman. [P]

Share

Identitas Gender Harus Dipertahankan

- Diambil dari Renungan Gereja Kristen Yesus Jemaat Green Ville -

1 Korintus 11

Apakah emansipasi wanita bisa diterima oleh iman Kristen?

Jawaban dari pertanyaan ini tergantung dari apa yang dimaksud dengan emansipasi. Bila yang dimaksud dengan emansipasi adalah persamaan hak antara wanita dan pria dalam hal mengikuti pendidikan, bekerja, dan dalam hal-hal lain yang masih mengikuti kodrat seorang wanita, emansipasi wanita perlu kita dukung. Akan tetapi, bila emansipasi itu diartikan sebagai kebebasan tanpa batas, hal itu tidak bisa kita terima. Wanita berbeda dengan pria dan wanita tidak boleh berlaku seperti pria. Dalam bacaan hari ini, jelas ada perbedaan aturan untuk wanita dan pria. Saat beribadah, wanita harus memakai kerudung (tutup kepala), tetapi pria tidak (11:4-5). Rambut panjang merupakan kehormatan bagi wanita, tetapi merupakan kehinaan bagi pria (11:14-15). Panjang atau pendek rambut berkaitan dengan identitas gender (jenis kelamin). Pria tidak boleh menjadi seperti wanita dan wanita tidak boleh menjadi seperti pria.

Emansipasi wanita sampai batas tertentu perlu kita dukung, tetapi emansipasi wanita tidak boleh tanpa batas. Wanita bukan pria dan wanita tidak boleh menganggap dirinya bebas untuk tampil seperti pria. Setiap orang tua Kristen harus berusaha mendidik anak mereka untuk mengenali dan menerima identitas seksual mereka. Sejak bayi, seorang anak laki-laki harus diperlakukan sebagai laki-laki dan seorang anak perempuan harus diperlakukan sebagai perempuan. Setiap orang tua wajib mengarahkan anak-anak mereka agar tidak tampil secara uniseks (penampilan yang membuat kita tidak bisa membedakan apakah seseorang itu pria atau wanita). Pernikahan homoseksual harus kita tentang! [P]

Ulangan 22:5
“Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.”

Share

Suksesi Kepemimpinan

– Diambil dari bacaan e-RH (www.renunganharian.net), EDISI  8 Juli 2009

Baca: Ulangan 31:1-8
Ayat Mas: Ulangan 31:7
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 4-6

Sejarah mencatat bahwa acap kali seorang pemimpin yang hebat gagal menutup masa kepemimpinannya dengan baik karena gagal melakukan suksesi. Hal ini bisa terjadi karena ia tidak mempersiapkan penerusnya dengan baik atau malah lupa bahwa suatu hari kepemimpinannya pasti akan berakhir. Akibatnya, setelah ia pensiun atau meninggal, karyanya seakan-akan menguap begitu saja karena penerusnya tidak mampu meneruskan.

Musa memastikan kepemimpinannya tidak berakhir demikian. Menjelang akhir hidupnya, ia mengumpulkan seluruh orang Israel dan menyerahkan tugas kepemimpinannya kepada Yosua di hadapan mereka. Hal ini membuat legitimasi kepemimpinan Yosua jelas. Selain itu, Musa memberi nasihat kepemimpinan kepada Yosua, yaitu untuk tetap beriman kepada Tuhan yang selama ini juga telah membimbing Musa. Yosua adalah seseorang yang selama ini telah menjadi abdi Musa (Keluaran 24:13). Melalui tugas itu, ia belajar segala hal yang perlu diketahui oleh seorang pemimpin Israel. Sehingga ketika Musa mengangkatnya menjadi pemimpin Israel, ia sudah siap.

Jika saat ini kita sedang menjadi pemimpin, baik itu di gereja, organisasi, tempat kerja, masyarakat, atau apa pun, kita harus ingat bahwa suatu hari kepemimpinan ini harus diserahkan kepada generasi penerus. Karena itu, adalah penting untuk mempersiapkan mereka; baik melalui pelatihan dan kesempatan maupun nasihat-nasihat. Supaya ketika saatnya tiba, mereka siap. Selain itu, kita perlu memastikan bahwa ketika suksesi itu terjadi, legitimasi (keabsahan) penerus kita jelas, supaya kelak ia tidak perlu menghadapi masalah di seputar hal itu.

Adalah tugas seorang pemimpin untuk mempersiapkan penerus perjuangannya

Penulis: Alison Subiantoro

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 9.931 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: