Jadilah KehendakMu, Bukan Kehendakku

Baca: Markus 14:32-42

Menjelang penyalibanNya, Yesus berdoa di taman Getsemani (32). Markus menggambarkan pergumulan Yesus dengan sangat tajam: Ia sangat takut dan gentar (33), hati-Nya sangat sedih seperti mau mati rasanya (34), Ia berdoa sungguh-sungguh sampai merebahkan diri ke tanah (35). Apakah ini artinya Ia ingin mundur dari karya penyaliban itu? Tidak. Yohanes 12:27 membuktikan betapa Yesus tahu jelas apa yang harus Ia hadapi dan Ia tidak berencana mundur. Lalu mengapa Yesus meminta agar cawan itu berlalu daripada-Nya?

Mari kita meninjaunya dari sisi relasi. Yesus dan Bapa memiliki relasi yang sangat intim, dekat, dan penuh kasih (Mat. 11:27; Yoh. 3:35; 10:15,17,30,38). Tapi apa yang akan terjadi di salib? Allah Bapa harus memalingkan wajah-Nya karena Yesus menanggung seluruh cawan murka Allah yang seharusnya kita tanggung. Begitu gentarnya, hingga malaikat pun tidak bisa menguatkan hati Yesus (Luk. 22:43) dan peluhNya menjadi seperti titik darah yang menetes (Luk. 22:44). Yesus tahu bahwa  di salib itulah Ia akan berteriak: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk. 15:34). Inilah puncak penderitaan Yesus, yaitu ketika Allah Bapa memalingkan wajah dari-Nya. Belum lagi ditambah dengan kegelapan yang meliputi seluruh daerah itu dan tabir Bait Allah terbelah (Mrk. 15:33,38). Meski demikian, Yesus mengakhiri doanya dengan sikap penyerahan total pada kehendak Bapa (36). Artinya, Ia rela terpisah dengan Allah Bapa demi menebus dosa kita dan menanggung cawan murka Allah.

Ironisnya, kita umat yang telah ditebus-Nya sering menganggap enteng hubungan kita dengan Allah. Kita tidak mau peduli dengan kondisi kerohanian kita. Kita tidak mau tahu apa kehendak-Nya. Kita justru sibuk memenuhi kehendak sendiri. Kiranya firman hari ini menjadi teguran yang tajam bagi kita semua. Yesus rela jauh dari Bapa agar kita dekat dengan-Nya.

Renungkan: Marilah kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara membangun kedekatan kita dengan Allah. [MF]

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Satu Tanggapan

  1. Tuhan Yesus.. Terimakasih untuk pengorbanannMu. Ku mohon Engkau menjadikanku Lebih baik dr hari kemarin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: