Senyapnya Suara Kebenaran

Baca: Markus 15:1-15

Detik-detik menuju penyaliban Yesus makin mencekam. Suara imam-imam kepala, tua-tua, dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah sepakat menghukum mati Yesus (1). Karena itu, pagi-pagi benar mereka sudah membawanya ke Pilatus (1). Tuduhan palsu pun mereka sampaikan (3). Hati mereka makin dipenuhi dengan kedengkian (10). Tidak heran jika mereka lebih memilih Barabas, si pembunuh dan pemberontak (7-8, 11) dibanding Yesus. Pilatus pun tidak bisa menemukan kesalahan Yesus (14).

Mereka juga menghasut orang banyak untuk mendukung keinginan mereka (11). Menghadapi suara mayoritas, Pilatus tidak dapat berbuat banyak. Dalam hal ini, Pilatus juga memiliki kepentingan politik. Ia harus mempertahankan posisinya sehingga ia memilih untuk memuaskan hati orang banyak yang menginginkan kematian Yesus. Ia memilih membebaskan Barabas (15). Tentu hal ini membuat orangorang makin antusias untuk menyalibkan Yesus (13, 14). Momen ini menjadi saksi bisu bagaimana hukum dan keadilan dipelintir sedemikian rupa oleh orang-orang yang notabene adalah pemimpin bangsa dan agama. Ambisi dan kebencian menang mengalahkan keadilan dan kebenaran. Hasilnya, Mesias disalibkan.

Zaman yang kita hidupi sekarang ini penuh dengan berbagai macam politik kotor, penistaan hukum, ambisi culas, dan kebobrokan moral. Para pemimpin negara maupun agama kerap kali mempraktekkan ketidakbenaran. Dengan pelbagai cara mereka berupaya memanipulasi jabatan untuk memperjuangankan ambisi dan kenyamanan pribadi. Dalam konteks dunia yang seperti demikian, bagaimana peran kita sebagai orangorang Kristen? Beranikah kita menyuarakan kebenaran di tengah ketidakbenaran di sekitar kita? Ataukah kita lebih memilih main aman dan mengikuti apa kata suara mayoritas?

Renungkan: Salah satu fungsi orang percaya adalah berani menyuarakan kebenaran. Menyuarakan kebenaran Allah memerlukan hikmat dan kebijaksanaan-Nya. [MF]

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Satu Tanggapan

  1. Terima kasih Jesus atas pengorbanan mu dan dgn kasihmu kami beroleh rahmat mu amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: