Menjadi satu daging

Alkitab menggambarkan pernikahan dengan ungkapan yang misterius, namun sangat mendalam maknanya: keduanya itu menjadi satu. Agar menyatu diperlukan kesediaan masing-masing pihak untuk melebur dan untuk “mati” terhadap diri sendiri dan hidup untuk melayani pasangannya. Hubungan pernikahan, dengan demikian, menuntut kepercayaan dan komitmen penuh satu sama lain.

Pernikahan bukanlah kontrak yang dengan gampang dibatalkan bila keadaan berkembang tidak sesuai dengan harapan, melainkan kesetiaan baik dalam suka maupun duka. Tekanan yang muncul pun akan didayagunakan untuk memperkuat hubungan, bukannya dibiarkan sehingga melemahkannya.

Dalam pernikahanlah pendekatan “win-win” dapat dipraktekkan seutuhnya. Bila ada pihak yang maunya menang sendiri, kekalahan justru mengancam pernikahan itu. Sebaliknya, ketika masing-masing pihak bersedia saling mengalah dan merendahkan diri, suami-isteri sebagai “satu daging” akan mengecap kemenangan bersama-sama. Hanya dengan kesetiaan masing-masing pihak, maka kemenangan bersama dapat diraih dalam sebuah pernikahan.

Markus 10:6~9 <.., sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: