Kebahagiaan Sejati

Baca: Matius 5:1-12

Dalam khotbahnya, Yesus mengajarkan kepada semua orang, termasuk para murid (1-2), tentang siapa yang disebut berbahagia. Yakni, orang yang miskin secara rohani karena mereka memiliki Kerajaan Allah (3). Allah akan senantiasa memerintah dan memelihara hidupnya. Orang yang sangat berduka atas dosa-dosanya (4, bdk. Mzm. 51), akan mendapatkan penghiburan dari Tuhan, berupa anugerah pengampunan baginya (lih. 1Yoh. 1:9; Yes. 1:18). Orang yang lemah lembut (5). Mereka memiliki kerendahan dan kelembutan hati seperti Yesus. Kelak mereka akan memiliki, bahkan memerintah bersama-sama Yesus atas bumi yang baru (Why. 20-22; Mzm. 37:11). Orang yang kelaparan dan haus akan kebenaran (6). Mereka akan mencari dan menemukan Allah sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang sanggup memuaskannya. Orang yang murah hati (7). Mereka berjiwa pengampun dan berbelas kasihan kepada orang yang menderita. Kepadanya Allah akan menyatakan kemurahan-Nya yang berlimpah-limpah (lih. Kel. 34:6-7a).

Orang yang hatinya disucikan oleh Allah (8). Sebab mereka bisa memiliki persekutuan yang intim dengan Allah dan mengalami-Nya (“melihat-Nya”) dalam pergumulan hidup yang riil. Orang yang berdamai dengan sesamanya (9) dan membawa orang lain berdamai dengan Allah. Mereka inilah yang disebut sebagai anak-anak Allah. Orang yang mengambil bagian dalam kehidupan Yesus dan para nabi-Nya. Mereka berani menanggung cela, aniaya, dan fitnah (10-11). Tuhan tentu tahu untuk memberikan upah yang sepadan baginya di surga (12).

Kita diingatkan bahwa kebahagiaan yang sejati bukan masalah fisik atau materi, melainkan rohani. Sumber kebahagiaan yang sejati itu berasal dari Tuhan. Dunia mungkin menawarkan kebahagian. Namun sifatnya sementara dan terbatas.

Menjadi orang yang berbahagia perlu mawas diri dan selalu mengevaluasi diri, apa atau siapa yang kita kejar dalam hidup ini? Marilah kita mengejar hal-hal rohani lebih dari hal-hal jasmani atau materi. [RH]

Baca Gali Alkitab 1

Matius 5:1-12

Khotbah di Bukit adalah ajaran iman dan panduan hidup bagi orang-orang percaya. Dalam ajaran itu, umat Allah dipanggil melakukan 10 Jalan Kebahagiaan. Dengan mempraktikkan hal itu, diharapkan setiap orang percaya menjadi terang dan garam dunia.

Apa saja yang Anda baca?

1. Apa yang dilakukan Yesus di atas bukit (1-2)?
2. Apa yang dikatakan tentang orang miskin (3)?
3. Apa yang dikatakan tentang orang berdukacita (4)?
4. Apa yang dikatakan tentang lemah lembut (5)?
5. Apa yang dikatakan tentang orang yang lapar dan haus (6)?
6. Apa yang dikatakan tentang orang yang murah hati (7)?
7. Apa yang dikatakan tentang orang yang suci hatinya (8)?
8. Apa yang dikatakan tentang orang yang membawa damai (9)?
9. Apa yang dikatakan tentang orang yang dianiaya (10)?
10. Mengapa orang yang dicela dan dianiaya disebut berbahagia (11-12)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?

1. Apa yang dimaksud dengan kata “Berbahagialah”?
2. Mengapa Khotbah di Bukit penting buat orang-orang percaya?

Apa respons Anda?

1. Sudahkah Anda melakukan dan menerapkan Khotbah di Bukit? Jika belum, apa tekad Anda?
2. Allah menghendaki umat-Nya menjadi sempurna seperti diri-Nya. Apa yang ingin Anda katakan kepada Allah dalam doa?

Pokok Doa:

Memohon kepada Tuhan agar hidup sehari-hari sesuai dengan ajaran-Nya dalam Khotbah di Bukit.

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: